
Yogyakarta, Kabarterdepan.com – Nama Christiano Tarigan mendadak ramai diperbincangkan publik setelah terlibat dalam kecelakaan maut yang menewaskan Argo Ericko Achfandi, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM). Insiden tragis itu terjadi, Sabtu (24/5/2025) lalu di wilayah Sleman, Yogyakarta.
Christiano, yang saat itu mengendarai mobil BMW, menabrak Argo hingga tewas. Mahasiswa UGM beramai-ramai menuntut keadilan untuk Argo hingga pihak kepolisian akhirnya menetapkan Christiano sebagai tersangka dalam kasus tersebut.
Rekam Jejak Akademik dan Organisasi
Bernama lengkap Christiano Pengarapenta Pengidahan Tarigan merupakan mahasiswa International Undergraduate Program di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UGM angkatan 2022. Di kampus, ia dikenal aktif dalam kegiatan organisasi.
Ia tercatat sebagai anggota Himpunan Mahasiswa Kristen FEB UGM dan juga menjabat sebagai staf Departemen Eksternal di Himpunan Mahasiswa Ilmu Ekonomi (HIMESPA).
Keterlibatannya dalam berbagai organisasi mencerminkan sosok yang aktif secara sosial dan organisatoris, menjadikannya figur yang cukup dikenal di lingkup FEB UGM.
Pernah Magang di OJK
Selain aktif di organisasi, Christiano juga memiliki pengalaman magang di lembaga besar. Dilansir dari LinkedIn miliknya, ia pernah magang di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Januari–Februari 2024.
Rekam jejak tersebut menunjukkan minat Christiano pada bidang keuangan dan bisnis, selaras dengan program studi yang ia ambil di UGM.
Ayah Christiano Jadi Sorotan
Pasca kecelakaan, perhatian publik tak hanya tertuju pada Christiano, tetapi juga pada sosok ayahnya yang bernama Setia Budi Tarigan.
Ia adalah salah satu petinggi di FIFGroup, sebuah perusahaan pembiayaan besar di bawah naungan Astra, yang saat ini ia menjabat sebagai Operational Director sejak tahun 2019.
Kariernya dimulai sejak tahun 1997 ketika ia bergabung dengan FIFGroup. Ia pernah menjabat berbagai posisi strategis, antara lain sebagai Internal Auditor, Branch Manager (2000), Human Resources Manager (2006), Head of Human Capital & General Services (2009), Chief of Human Capital (2012), dan Chief of Operations (2016).
Hal tersebut memicu beragam komentar warganet mengenai isu privilege yang dimiliki Christiano. (Riris*)
