
Yogyakarta, kabarterdepan.com – Di sebuah gang kecil Kampung Miliran, Kelurahan Muja-Muju, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, berdiri rumah tua yang perlahan dimakan usia.
Bagian belakangnya terbuka sejak atapnya runtuh beberapa tahun lalu. Dindingnya lembab, menghitam kehijauan oleh lumut. Kayu-kayu penyangga rapuh dan sewaktu-waktu bisa jatuh.
Di rumah itulah Giorgi Paulus L. yang akrab disapa Paul, tinggal bersama istrinya, Nuri. Dari seluruh bagian bangunan, hanya ruang tamu yang masih cukup aman untuk berteduh.
Baca juga: Sensus Ekonomi 2026 Bojonegoro Resmi Dimulai, UMKM Tuntut Kebijakan Tepat Sasaran dan Berkeadilan
“Blandarnya sudah mulai gapuk, dicek memang sudah rapuh,” kata Paul, Minggu (15/2/2026).
Keterbatasan biaya membuat perbaikan rumah terus tertunda. Paul dan Nuri yang dulu bekerja di bidang asuransi kini tak lagi memiliki penghasilan tetap. Usia yang tak muda lagi membuat mereka kesulitan mencari pekerjaan.
“Belum ada biaya untuk memperbaiki. Yang depan masih bisa dipakai, tapi lama-lama juga lapuk, dimakan rayap,” ujarnya.
Padahal rumah tersebut menyimpan nilai sejarah keluarga. Bangunan itu merupakan peninggalan orang tua Nuri, Sudrajat, yang dibangun sedikit demi sedikit dengan penuh perjuangan.
“Rumah ini kenangan dari orang tua. Dulu dicicil separuh-separuh sampai jadi seperti ini,” tutur Paul.
Harapan dari Program Bedah Rumah di Yogyakarta
Kesempatan memperbaiki rumah datang setelah Paul mengetahui program bedah rumah yang digagas Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo. Ia mengetahuinya saat melihat proses perbaikan rumah lain di kawasan Lempuyangan.
“Saya lihat ada bedah rumah, ternyata program Pak Hasto. Saya coba ajukan karena memang tidak punya biaya, ternyata disetujui,” katanya.
Setelah melengkapi persyaratan selama sekitar satu bulan, rumahnya resmi masuk daftar penerima bantuan. Minggu pagi itu, rumah yang bertahun-tahun tak tersentuh renovasi akhirnya mulai diperbaiki.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menegaskan program bedah runag bukan sekadar membenahi bangunan fisik, tetapi upaya menekan kesenjangan sosial melalui semangat kebersamaan.
“Kita harus menurunkan kesenjangan sosial. Gotong royong itu harus nyata. Bukan hanya memperbaiki rumah, tapi merawat kehidupan,” ujarnya.
Ia mengaku prihatin melihat kondisi rumah Paul yang dari luar tampak biasa, namun bagian dalamnya sudah rusak parah.
“Kalau warga sudah tidak mampu merawat amanah orang tuanya karena kesulitan hidup, itu menjadi tanggung jawab bersama,” tegasnya.
Sepanjang 2026, program ini menargetkan 200 rumah direnovasi dan dilaksanakan setiap hari Minggu.
Dalam satu pagi, bahkan bisa tiga rumah sekaligus dibedah. Seluruh pembiayaan berasal dari swadaya dan dukungan swasta tanpa menggunakan APBD maupun APBN.
Kolaborasi Warga dan CSR
Ketua LPMK Muja-Muju, Agus Dono, menyebut kondisi rumah Paul sudah memprihatinkan sejak dua hingga tiga tahun terakhir. Atap bocor hampir di seluruh bagian, bahkan berpotensi membahayakan penghuni.
“Kalau hujan, bocor semua. Kayunya lapuk, bisa jatuh sewaktu-waktu,” jelasnya.
Rumah dengan empat kamar itu kini tak lagi layak ditempati selain ruang tamu. Bantuan pun datang dari berbagai pihak, termasuk dana CSR senilai Rp20 juta serta dukungan material baja ringan dari perusahaan yang beroperasi di DIY. Warga setempat turut bergotong royong menyumbang tenaga dan bahan bangunan.
“Kalau ada yang ingin membantu, langsung kita koordinasikan. Swadaya masyarakat sangat besar,” ujar Agus.
Ia berharap pengerjaan selesai dalam dua minggu dan kondisi rumah yang layak nantinya dapat meningkatkan kualitas hidup penghuninya.
Kampung yang Menjaga Kebersamaan
Ketua RW Miliran, Bambang Srigati, mengatakan wilayahnya dikenal dengan semangat guyub rukun dan toleransi antarumat beragama. Enam agama hidup berdampingan harmonis, saling mendukung dalam berbagai kegiatan sosial maupun keagamaan.
Semangat itulah yang terlihat saat proses bedah rumah berlangsung. Warga bersama-sama membongkar atap lama, mengangkat kayu, hingga membersihkan sisa material rusak.
Lurah Muja-Muju, Dwi Wahyudi, menilai program ini menjadi bukti kuatnya kebersamaan warga.
“Ini bukan sekadar bantuan CSR, tapi wujud rasa memiliki bersama,” katanya. (Hadid Husaini)
Editor berita: Ririn W.
