
Grobogan, kabarterdepan.com – Momen hari raya Idul Adha, berbagai sajian olahan daging kurban biasa disiapkan. Umumnya, masyarakat mengolah daging kurban menjadi sate, gulai, atau rendang yang praktis dan cocok untuk menciptakan suasana kebersamaan.
Namun, di Kabupaten Grobogan, ada satu olahan khas yang tak kalah menggoda, yaitu sayur becek. Kuliner warisan leluhur ini disebut mampu menyaingi kelezatan masakan daging kurban lainnya.
“Disebut sayur becek karena sajian berkuah ini mirip sup iga balungan sapi. Kuahnya bening, sedikit keruh, dengan cita rasa segar, gurih, dan asam,” ujar Mbok Darpi, warga Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan, Jumat siang (30/5/2025).
Sayur becek juga kerap disebut nasi becek karena biasanya disajikan bersama nasi putih, oseng lombok ijo (tumis cabai hijau), kacang tolo, dan kering tempe sebagai pelengkap.
“Kuah sayur becek terasa gurih berkat perpaduan bumbu seperti bawang merah, bawang putih, kemiri, dan ketumbar dan sedikit santan” lanjut Mbok Darpi.
Bagi penikmat rasa pedas, masakan ini bisa ditambahkan cabai. Resep otentik sayur becek bahkan menggunakan daun dayakan sebagai penyedap alami, sementara rasa asamnya diperoleh dari daun kedondong.
Bahan utama sayur becek biasanya menggunakan iga atau balungan sapi. Namun, tidak sedikit warga yang memilih balungan kerbau atau kambing sebagai bahan utama. Ketiga jenis daging tersebut memiliki sejarah panjang dalam tradisi memasak sayur becek di Grobogan.
Salah satu pecinta kuliner becek, Parno alias Gundul, menyampaikan bahwa asal-usul sayur becek bermula dari sajian tradisional dalam hajatan warga Grobogan seperti pernikahan dan khitanan.
“Nasi becek selalu hadir di berbagai hajatan. Banyaknya tamu membuat kuah masakan diperbanyak agar cukup untuk semua. Dari sinilah asal nama ‘becek’, yang berarti berair atau banyak kuah,” jelas Gundul.
Keunikan lainnya, sayur becek juga menjadi menu istimewa dalam momen seperti panen raya. Para petani biasa menyajikan hidangan ini untuk pekerja setelah memanen padi. Selain itu, nasi becek disajikan pada perayaan tradisional seperti Suronan atau menyambut hari besar lainnya.
Menariknya, menurut Gundul, tradisi memasak sayur becek dilakukan oleh para pria. Saat dimasak, masakan ini tidak boleh dicicipi. Setelah matang, sayur becek disantap bersama warga dan tamu yang hadir sebagai simbol kebersamaan.
Sayur becek kini menjadi bagian dari budaya kuliner masyarakat Grobogan dan terus dilestarikan, baik dalam tradisi maupun di warung dan rumah makan lokal. (Masrikin).
