Sampah Plastik di Sleman Masih Tinggi, Begini Langkah Pemkab

Avatar of Redaksi
IMG 20250630 WA0091
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sleman (Dinas Lingkungan Hidup) Sleman Ephipana Kristiyani saat diwawancarai wartawan pada Senin 30/6/2025). (Hadid Husaini for kabarterdepan.com)

Sleman, kabarterdepan.com – Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman Epihana Kristiyani menyampaikan penggunaan sampah plastik sekali pakai di Sleman tergolong masih tinggi.

Hal itu ia sampaikan saat peringatan Puncak Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang digelar di Gedung Serba Guna, Sleman, DIY., Senin (30/6/2025).

Dikatakan Epi, sampah plastik di Sleman sebanyak hingga 37 persen dari total sampah yang ada di bumi Sembada sebanyak 602 ton per hari.

Hingga saat ini pengolahan sampah anorganik yang didalamnya terdapat jenis sampah plastik dilakukan di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di 2 lokasi di Sleman dilakukan di Tamanmartani dan Sendangsari.

Hasil pengolahan sampah organik akan menjadi Refuse Derived Fuel (RDF). Dari 2 TPST tersebut Sleman baru bisa mengolah sampah sebanyak 22 persen.

Dengan Sleman yang bersih disebutnya akan menjadikan masyarakat maju dan unggul.

“Di Sleman banyak orang pintar, tapi apa yang menyebabkan itu kenapa kita tidak bisa bersih sama-sama. Tapi saya yakin bukan tidak bisa mengolah, tapi bagaimana kita bisa start bareng,” katanya saat diwawancarai wartawan pada Senin (30/6/2025).

Ia menyampaikan sampah plastik bisa berubah bentuk menjadi mikro plastik yang dapat dikonsumsi oleh makhluk hidup yang ada di lautan.

“Kalau dikasih beban air akhirnya lama-lama pecah menjadi mikro plastik,” katanya.

“Bisa sampai ke laut, ikan penyu dan hewan laut kalau dimakan oleh kita jadi masuk rantai makanan. Siapa tahu panjenengan terkontaminasi,” katanya.

Oleh karena itu ia menyampaikan masyarakat perlu diberikan edukasi, terutama dalam menggunakan bahan-bahan yang bisa didaur ulang.

Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa menyampaikan bahwa masyarakat diharapkan untuk menghindari sampah plastik. Hal tersebut menurutnya juga masih terjadi di lingkungan Pemda Sleman dalam berbagai kesempatan.

“Penggunaan sampah plastik masih banyak, kita kalau tidak menggunakan sampah plastik itu juga sulit, terutama di lingkungan Pemda. Karena ini sebagai contoh bagi masyarakat bagaimana kita mengurangi kemasan makanan apapun menggunakan bungkus plastik, kalau sedang rapat atau apa bisa dikurangi,” jelas Danang.

Selain itu, penggunaan sampah sekali pakai di toko modern disebutnya juga masih menjadi perhatian. Ia menyampaikan pelarangan tersebut bisa saja dilakukan. Kendati begitu masyarakat sendiri disebutnya masih memiliki ketergantungan yang tinggi.

“Sangat bisa (pelarangan) dilakukan. Dulu semuanya sudah ada larangan untuk tidak menyediakan kantong plastik (di toko modern) yang masyarakat kadang-kadang meminta berbayar pun mau,” katanya.

Oleh karena itu, ia menyampaikan bahwa edukasi kepada masyarakat perlu digencarkan dan keterbukaan dari seluruh elemen masyarakat untuk mengurangi sampah plastik. (Hadid Husaini)

Responsive Images

You cannot copy content of this page