
Pernahkah Anda membuka media sosial dan merasa sedang melihat ribuan orang memakai seragam yang sama? Mulai dari gaya Clean Girl, Mob Wife, hingga estetika Coquette yang datang dan pergi secepat kilat.
Memasuki tahun 2026, fenomena ini mulai mencapai titik jenuh. Orang-orang mulai sadar bahwa mengikuti arus digital itu melelahkan. Inilah alasan mengapa kebangkitan personal style kini menjadi topik paling hangat sekaligus menjadi “obat” bagi kesehatan mental dan dompet kita semua.
Apa Itu Tren Algoritma?
Selama beberapa tahun terakhir, cara kita berpakaian sangat didikte oleh algoritma. Apa yang viral di TikTok hari ini, besok sudah terpampang di toko fast fashion. Namun, di tahun 2026, terjadi pergeseran besar. Kita mulai merindukan orisinalitas.
Kebangkitan personal style muncul sebagai bentuk perlawanan terhadap “budaya seragam” yang diciptakan oleh kecerdasan buatan.
Secara psikologis, memakai pakaian yang hanya ikut-ikutan tren membuat kita kehilangan identitas. Kita tidak lagi bertanya, “Apakah saya suka baju ini?” melainkan “Apakah baju ini bakal terlihat bagus di konten saya?”.
Tren algoritma menciptakan siklus konsumsi yang tidak sehat, di mana sebuah baju dianggap “kuno” hanya dalam waktu dua minggu. Inilah yang memicu gerakan kembali ke gaya personal yang lebih jujur dan autentik.
Kebangkitan Personal Style: Unik Itu Mewah
Dalam fenomena kebangkitan personal style, kemewahan tidak lagi diukur dari logo brand besar, melainkan dari cerita di balik pakaian tersebut. Ada tiga pilar utama yang mendominasi tren ini:
-
Archival & Thrifting: Memakai baju vintage dari era 90-an atau 2000-an awal kini dianggap lebih bergengsi. Mengapa? Karena kemungkinan Anda bertemu orang dengan baju yang sama adalah nol persen.
-
Upcycling Art: Memodifikasi pakaian lama menjadi sesuatu yang baru. Menambahkan bordir tangan pada jaket denim tua atau mengubah celana bahan menjadi tas kini menjadi hobi yang sangat dihargai.
-
Investasi pada Kualitas: Daripada membeli sepuluh baju murah, orang lebih memilih satu kemeja linen berkualitas tinggi yang bisa dipakai hingga sepuluh tahun ke depan.
Gerakan kebangkitan personal style ini juga sangat erat kaitannya dengan isu lingkungan. Dengan berhenti mengejar mikro-tren, kita secara otomatis membantu mengurangi limbah tekstil yang menjadi masalah global.
Cara Menemukan Gaya Personal Anda Tanpa “Bantuan” AI
Jika Anda ingin ikut dalam arus kebangkitan personal style, langkah pertama bukanlah belanja, melainkan berhenti sejenak. Cobalah lakukan “Audit Lemari”. Lihat kembali pakaian yang benar-benar membuat Anda merasa percaya diri saat memakainya tanpa peduli apa kata orang.
Ciptakan moodboard secara offline. Ambil inspirasi dari film-film lama, foto kakek-nenek Anda di masa muda, atau bahkan dari kombinasi warna di alam.
Gaya personal adalah tentang mengenal diri sendiri. Apakah Anda tipe yang menyukai gaya maskulin dengan potongan oversized, atau Anda lebih nyaman dengan gaya bohemian yang penuh warna? Di tahun 2026, jawabannya tidak ada yang salah. Selama itu mencerminkan kepribadian Anda, itulah tren yang sebenarnya.
Fenomena kebangkitan personal style adalah pengingat bahwa kita bukanlah produk dari algoritma. Fashion seharusnya menjadi alat untuk mengekspresikan siapa kita, bukan sarana untuk sekadar “diterima” oleh publik internet.
Saat Anda berani tampil beda dan menjadi diri sendiri, itulah momen di mana Anda benar-benar menjadi fashionable.
Jadi, sebelum Anda mengklik tombol check-out untuk barang viral berikutnya, tanyakan pada diri sendiri: “Apakah ini saya, atau ini hanya algoritma?”. Selamat menemukan kembali jati diri Anda melalui pakaian!(*)
