
Mojokerto, Kabarterdepan.com – Desa Puri Kabupaten Mojokerto, menggelar perayaan yang meriah untuk memperingati bulan Ruwah, sebuah bulan yang dipenuhi dengan nilai spiritual dan tradisi budaya yang kental pada Sabtu, 8 Februari 2025.
Sebanyak dari 24 RT ditambah dengan jumlah partisipan 20 jadi semua total peserta 44 kelompok yang mengikuti mulai dari lini pendidikan hingga paguyuban.
Rute melewati 4 dusun start di Dusun Temon – Dusun Puri – Dusun Sawo – Dusun Tegal Sari dan masuk di finish Wisata Gelang Puri (WGP).
Pohon Gelang, yang tumbuh di Punden Desa Gelang Puri, telah berdiri megah selama lebih dari seribu tahun.
Pohon ini memiliki diameter sekitar 5 meter dan tingginya mencapai 30 meter, menjadikannya terlihat sangat besar dibandingkan dengan pohon-pohon di sekitarnya.
Pohon tersebut dinamakan “Gelang” yang berarti “besar” dalam bahasa setempat, karena di bawahnya terdapat beberapa batu andesit besar yang disebut “gelang”.
Cerita tentang Pohon Gelang diturunkan dari generasi ke generasi di Desa Puri. Ada yang percaya bahwa pohon ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Keling di Kediri,
Sementara yang lain mengaitkannya dengan era Kerajaan Majapahit atau bahkan sejak penjajahan Belanda. Pohon Gelang ini juga dianggap memiliki kekuatan mistis oleh penduduk setempat.
Masyarakat Desa Puri sering mengadakan upacara “Barikan” di bawah pohon ini untuk mengungkapkan hajat atau keinginan mereka kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Tradisi ini melibatkan berbagai hajatan seperti khitanan, pernikahan, atau syukuran lainnya, dan memperkuat keyakinan bahwa pohon ini memiliki aura mistis yang kuat dan menjadi tempat berdoa bagi masyarakat sekitar.

Acara yang berlangsung mulai jam 1 siang ini tidak hanya menjadi momen yang dinanti-nantikan oleh masyarakat, tetapi juga menjadi ajang untuk melestarikan adat istiadat dan mempererat tali persaudaraan antarwarga.
Kepala Desa Puri Jupriadi (50) menyampaikan bahwa dalam memperingati Ruwah desa sama dengan sedekah bumi, kali ini diadakan kirab dengan sebuah tujuan dan harapan dari pemerintah desa bagi anak cucu kita bisa tahu bagaimana dulu sedekah Desa Puri karena ini merupakan adat di Puri.

“Ada salah satunya ikon yakni Pohon Gelang yang besar sehingga barangkali nanti anak kita atau keturunan itu tanya apa itu Pohon Gelang dapat mengerti. Apa itu menyembelih kerbau, pleretan, Dewi Sri sehingga kita minimal bisa juga menyampaikan kalau tidak kita angkat atau lestarikan akan kalah dengan kemajuan zaman,” jelas Jupriadi.
Selain kemeriahan serangkaian Ruwah Desa Puri yang menjadi sorotan yakni Kepala Desa beserta keluarga terlihat serasi dan memukau mengenakan kostum adat Jawa lengkap dengan beskap dan blangkon, saat memimpin pawai dalam rangka memperingati Ruwah Desa.
Dengan mengenakan pakaian tradisional tersebut, beliau tak hanya menunjukkan rasa hormat terhadap budaya leluhur, tetapi juga berupaya untuk mengangkat dan melestarikan adat Mojokerto yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.
“Untuk harapan Ruwah Desa Puri kedepannya sudah sering menyampaikan perbedaan kirab dengan pawai. Pada saat Ruwah beda dengan pawai 17-an, kalau pawai 17-an sekiranya temanya tentang pahlawan kemerdekan, akan tetapi kirab Ruwah berangkat dari adat Desa Puri yang nanti dikembangkan ke adat Mojokerto,” terangnya.
Jupriadi juga menambahkan setelah acara Ruwah dan kirab terlaksana 1 minggu kemudian akan ada kegiatan menyembelih 1 ekor kerbau yang sudah menjadi tradisi mulai mbah buyut sebelumnya sehingga sekarang diteruskan sebagai bentuk rasa syukur, tepat di hari Jum’at 14 Februari mendatang.
Perihal persiapan acara dijelaskan oleh salah satu anggota Karang Taruna Desa Puri Kaistan (35) kurang lebih selama 2 bulan sebelumnya.
Tahun ini, acara tersebut semakin istimewa dengan pelaksanaan tema ”Kirab Budaya Desa Puri 2025” yang diikuti oleh berbagai kalangan masyarakat, serta diakhiri dengan rangkaian tradisi Ambil Sedekah Bumi.

Tak hanya itu, para peserta juga tampil dengan berbagai atraksi, seperti tarian daerah, permainan musik tradisional, dan pertunjukan seni lainnya yang memukau seluruh warga yang hadir.
Sorak sorai dari warga terdengar riuh di sepanjang rute pawai, menunjukkan semangat kebersamaan yang sangat kuat. Di sepanjang jalan, warga desa tak hanya menyaksikan, tetapi juga ikut serta dengan melambaikan tangan dan memberi semangat kepada para peserta.
Semangat dan antusiasme ini semakin menguatkan nilai-nilai kebersamaan dalam masyarakat yang saling menghormati satu sama lain.
Acara dilanjutkan dengan tradisi Ambil Sedekah Bumi, yang merupakan bentuk syukur masyarakat atas hasil bumi yang melimpah sepanjang tahun.
Namun, di tengah semaraknya kirab, terdapat kejadian yang mengecewakan bagi panitia penyelenggara yang sudah memberikan peringatan bahwa dilarang mengambil hasil bumi sebelum mencapai di finish.
Seiring dengan berjalannya Kirab Budaya sejumlah warga yang terlibat dalam tradisi Ambil Sedekah Bumi, yang merupakan bagian dari perayaan bulan Ruwah, terlihat mulai mengambil hasil bumi yang disiapkan untuk dibagikan di akhir acara.

Hasil bumi seperti padi, jagung, sayur-mayur, dan buah-buahan yang biasanya dibagikan kepada warga di titik finish pawai, sudah diambil oleh sebagian warga sebelum pawai mencapai garis akhir.
Hal ini menyebabkan jalan yang dilalui oleh peserta pawai menjadi kotor, dengan sisa-sisa hasil bumi yang berserakan di sepanjang jalan.

Meski demikian, panitia acara segera mengerahkan warga untuk membersihkan sisa-sisa hasil bumi yang berserakan di sepanjang jalan.
Mereka berharap agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang dan agar acara yang penuh makna ini tetap dapat berlangsung dengan lancar dan penuh khidmat.
Warga yang turut serta dalam pawai mengungkapkan harapan agar acara ini dapat kembali menjadi momen yang menyatukan dan mempererat hubungan antarwarga tanpa adanya gangguan atau kekhawatiran.
“Kebersamaan dan kekompakan yang tercipta di bulan Ruwah harus tetap dijaga, baik dalam kegiatan budaya maupun dalam menjaga kebersihan lingkungan,” ujar Ana salah satu warga yang hadir.
Tradisi ini memiliki makna penting dalam kehidupan masyarakat desa, karena selain mengungkapkan rasa syukur atas berkah yang diterima, Sedekah Bumi juga merupakan bentuk solidaritas sosial di mana hasil bumi dibagikan kepada warga desa.
“Ambil Sedekah Bumi adalah tradisi yang sudah ada sejak nenek moyang kami. Ini adalah bentuk rasa syukur kami kepada Tuhan atas hasil bumi yang diberikan kepada desa kami. Selain itu, tradisi ini juga mengajarkan kami untuk saling berbagi, menghargai sesama, dan menjaga kelestarian alam,” tambah Ana.
Warga desa yang membawa hasil bumi mereka untuk dibagikan dengan penuh sukacita, dengan harapan bahwa berkah tersebut akan membawa kedamaian dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.
Acara ini tak hanya menjadi momen untuk merayakan bulan Ruwah, tetapi juga menjadi bukti bahwa meskipun zaman terus berkembang, nilai-nilai luhur budaya dan adat istiadat tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat desa. (Tantri*)
