
Jakarta, Kabarterdepan.com – Budaya Betawi kian tergerus akibat kuatnya pengaruh globalisasi dan modernisasi. Terlebih, sistem pendidikan formal di Jakarta juga belum tersedia modul pembelajaran atau mata pelajaran wajib yang secara khusus mengkaji Budaya Betawi.
RUNCING (Ruang Belajar Untuk Cilincing), sebuah program non-thesis di bawah naungan LSPR Institute yang berfokus pada pencapaian SDG 4: Pendidikan Berkualitas, meluncurkan sebuah inovasi edukasi berkelanjutan berupa e-book pengenalan Budaya Betawi yang berjudul ‘Betawi Punye Cerite’.
E-book ini dirancang secara sederhana agar dapat diakses dengan mudah oleh berbagai kalangan, mulai dari siswa sekolah hingga masyarakat umum. Materi e-book ini menggunakan booklet Abang None Jakarta Utara 2024 sebagai referensi utama.
Untuk mempermudah distribusi dan mendorong gaya hidup ramah lingkungan, e-book ini dapat diunduh melalui QR code yang akan dipasang di SMPN 290 Marunda dan Rumah Si Pitung.
Selain itu, versi fisik dari e-book juga akan diberikan kepada kedua lokasi tersebut sebagai bentuk apresiasi dan upaya memperluas akses literasi budaya.
Dengan menggabungkan teknologi digital dan materi edukatif, RUNCING berharap generasi muda tidak hanya mengenal, tetapi juga bangga terhadap budaya Betawi sebagai bagian dari identitas kota Jakarta di tengah dinamika dunia modern.
“Melalui e-book ini, kami tim RUNCING, berharap bahwa nilai-nilai budaya Betawi dapat terus hidup dan diteruskan ke generasi berikutnya, dengan cara yang mudah dijangkau,” ujar Thendrian Liunardi, ketua program RUNCING.
Peluncuran e-book ini mendapat sambutan positif dari Bu Devi, mitra kolaborasi RUNCING dan Kepala Sekolah SMPN 290 Marunda Cilincing, yang memberikan dukungan penuh.
Sumardi, Kasatpel Rumah Si Pitung juga menyampaikan dukungannya.
“Luar biasa, kiranya buku ini dapat menjadi pembelajaran bagi masyarakat luas untuk mengenalkan budaya Betawi,” ujarnya.
Sebelumnya, RUNCING telah mengadakan kegiatan sosial berupa program mengajar interaktif di Cilincing, Jakarta Utara, khususnya di Kampung Baru Nelayan, dengan menggandeng sekolah informal, Sekolah Di Utara. Kali ini, RUNCING kembali membawakan kegiatan edukatif dengan konsep baru, yakni pelestarian budaya Betawi.
Melvin Bonardo, dosen pembimbing sekaligus penanggung jawab program RUNCING #BerbudayeDiCilincing, menyampaikan bahwa diharapkan kehadiran e-book ini dapat memperkuat pemahaman masyarakat.
“Setelah adanya 2 hari kegiatan praktik #BerbudayeDiCilincing, harapannya melalui e-book ini, peserta tidak hanya menguasai keterampilan secara praktik, tetapi juga mendapatkan bekal pengetahuan secara teoritis melalui materi yang terstruktur,” pungkasnya. (*)
