
Banyuwangi, kabarterdepan.com- Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Banyuwangi merasa dikucilkan usai partai tersebut tak masuk daftar posisi strategis apapun pada Alat Kelengkapan Dewan (AKD) yang secara resmi dibentuk Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Banyuwangi, Rabu, (2/10).
Bahkan dengan tegas, partai peraih suara terbanyak kedua pada Pemilihan Legislatif (Pileg) Banyuwangi 2024 tersebut dengan tegas mengatakan bahwa AKD periode saat ini tak memenuhi azas proporsionalitas.
Namun, PKB dikatakan memaklumi peristiwa yang terjadi karena memang suhu politik di legislatif memanas imbas perbedaan pandangan dan dukungan PKB dengan partai-partai lainnya pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Banyuwangi.
Bagaimana tidak, PKB adalah satu-satunya partai yang mengusung pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Banyuwangi nomor urut 2, Ali Makki Zaini dan Ali Ruchi, menantang 6 partai peraih kursi lainnya yang sepakat mengusung petahana Ipuk Fiestiandani dan calon wakilnya, Mujiono.
“Dicalonkannya Ali-Ruchi sebagai penantang tunggal oleh PKB menimbulkan impact disparitas cukup tajam,” kata Ketua Fraksi PKB, Arvy Rizaldy, Kamis, (3/10).
Dan pada akhirnya, dia merasakan betul suasana dikotomi koalisi dan oposisi yang menyebabkan PKB tak meraih posisi strategis AKD dan bahkan dikucilkan.
“Terutama antara partai kami dan partai-partai pengusung petahana. Tidak hanya di luar, namun juga di dalam lembaga perwakilan rakyat ini,” kata Arvy.
“Oleh sebab itu, kami Fraksi PKB menyatakan sikap untuk menjadi kolega kritis konstruktif di internal DPRD Banyuwangi,” tambahnya.
Namun demikian, Arvy menyatakan bahwa pihaknya menerima keputusan yang telah menyepakati pembentukan AKD dan menuturkan bahwa dia mendoakan dampak positif Banyuwangi dari keputusan tersebut.
“Selamat mengemban tugas bagi yang telah ditetapkan. Izinkan kami mufaraqah dalam kebersamaan kali ini, dan insyaAllah ini adalah jalan terbaik untuk PKB lebih fokus membangun koalisi dengan rakyat mewujudkan Banyuwangi Hebat, Rakyat Bahagia,” tandasnya. (Fitri)
