
Kota Mojokerto, kabarterdepan.com – Mangut ikan asap dengan racikan bumbu khas pesisir selatan Jawa menjadi sajian unggulan di Warung Wape. Cita rasanya yang kaya rempah namun tidak terlalu manis menjadikan warung ini tetap dicari, meski banyak kuliner baru bermunculan.
Pemilik Warung Wape, Bubah, mengatakan bahwa awal mula usaha ini berangkat dari tradisi keluarga. Masakan seperti lodho, mangut, dan lodeh pedas dulunya hanya dimasak saat Lebaran untuk keluarga besar yang pulang kampung.
“Saudara-saudara dari luar kota selalu menanti sajian itu. Akhirnya kami buka warung agar semua orang bisa mencicipinya,” ujar Bubah saat ditemui Senin (22/07/2025).
Warung ini berada di Jalan Mojopahit Nomor 279, Mergelo, Kranggan, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. Setiap hari, warung ini buka mulai pukul 09.00 hingga 21.00 WIB, dengan harga menu mulai dari Rp8.000.
Menu seperti mangut ikan asap, cumi, dan paru menjadi favorit para pelanggan. Rasanya yang otentik dan berani bumbu membuat pengunjung dari berbagai usia terus kembali untuk menikmatinya.
Inspirasi resep di Warung Wape berasal dari warisan nenek moyang yang diturunkan secara turun-temurun. Hal ini menjadikan rasa masakan tetap terjaga keasliannya hingga sekarang.
“Kami datangkan ikan asap langsung dari pesisir agar rasanya tetap segar dan khas. Bumbu pun kami racik seimbang, tidak terlalu manis, supaya cocok dengan lidah masyarakat,” jelas Bubah.
Proses memasak mangut ikan asap diawali dengan pemanggangan ikan menggunakan arang. Ikan diasap secara perlahan selama beberapa jam hingga matang merata dan aroma asapnya meresap. Setelah itu, ikan dimasak kembali bersama santan dan bumbu rempah hingga kuah mengental dan rasa meresap sempurna.
Tantangan terbesar dalam menjalankan usaha ini adalah ketersediaan bahan baku. Pada musim tertentu, nelayan sulit melaut karena cuaca ekstrem, sehingga stok ikan asap menjadi terbatas.
Meski begitu, Bubah tetap berkomitmen menjaga kualitas masakan. Ia berharap Warung Wape dapat terus berkembang dan menjadi bagian dari upaya pelestarian kuliner tradisional Indonesia.
“Kami ingin anak cucu kita tetap bisa menikmati masakan seperti ini. Jangan sampai terlupakan oleh tren makanan dari luar,” ucapnya. (Ceci)
