Ratusan Peserta Ikuti Lomba Melamun di Yogyakarta, Sarana Lepaskan Beban Hidup Sambil Perkenalkan Wisata Lokal

Avatar of Redaksi
IMG 20250818 WA0088
Puluhan hingga ratusan peserta ikuti lomba melamun di kawasan wisata Benteng Cepuri, Kotagede, Kota Yogyakarta, DIY, Senin (18/8/2025).(Hadid Husaini / kabarterdepan.com)

Yogyakarta, kabarterdepan.com – Ratusan peserta mengikuti lomba melamun dalam memperingati hari Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia di kawasan Benteng Cepuri, Kotagede, Kota Yogyakarta, DIY.

Di tengah kehidupan yang semakin terasa berat, para peserta nampak menikmati beban pikiran dengan cara bengong.

Mereka yang ikut datang tidak hanya dari Yogyakarta, namun juga luar daerah seperti Jakarta, Semarang, dan Magelang.

Salah seorang peserta, Intan menyampaikan lomba ini merupakan suatu hal yang unik. Ia mengaku belum pernah mengikuti perlombaan sejenis.

“Kita dikasih wadah untuk overthinking, sampe kepikiran, sampe overthinking, sampai ngalamun dijadikan lomba,” katanya saat diwawancarai wartawan.

Selama mengikuti lomba tersebut, ia mengaku terfasilitasi untuk bisa melepas bebannya sebagainseorang pekerja swasta.

“Semoga lebih banyak yang mengikuti. Kayaknya ini perdana, tapi pesertanya sudah banyak. Semoga ke depanya lebih banyak lagi,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut terdapat sejumlah aturan yang harus dipenuhi. Ia mengaku tidak sampai selesai karena kesemutan.

Pasalnya, lomba tersebut dianggap memakan waktu yang terlalu lama.

Ia menyebut lomba melamun perlu digelar lagi kedepannya.

Peserta lainya, Fitri, mengungkapkan ia sebelumnya merasa penasaran saat mendapatkan informasi lomba tersebut.

Ia menyampaikan bisa melamunkan berbagai masalah di bersama dengan peserta lainya. “Lihat lokasinya di Jogja, Menarik. Karena nggak ada kegiatan ya udah deh coba,” ujarnya.

Sebagai seorang mahawasiswa, banyak beban yang mulai ia rasakan. Ia mengaku saat ini menjalani koas sebagai mahasiswa pendidikan dokter.

“Wah, yang pertama masuk ke feelnya pertama !agak bingung, ngamunin apa ya, terus lama lama bengongin masa depan, katanya.

Panita Pelaksana Lomba Melamun Tri Jati menjelaskan bahwa lomba melamun kali ini bukan yang pertama kami diselenggarakan di Indonesia.

Lomba ini sebelumnya juga penah diselenggarakan di Jepang.

“Kalau di Jepang punya acara alat ukur detak jantung, secara biologis terukur. Kita coba adopsi itu lebuh manual aja,” katanya.

Dalam pernacanaanya, kegiatan tersebut hanya membuka kuota sebanyak 20 orang. Mamun karena antusiasme masyarakat cukup besar, pihaknya mengambil kesempatan kegiatan tersebut sebagai ajang promosi wisata.

“Kita sebetulnya membuka peserta untuk 20 orang, karena kita ingin eksplor Benteng Cepuri, itu sejarah Kotagede sebelum kerajaan abad ke 1.600,” katanya.

Ia menyampaikan bahwa melamun merupakan kegiatan yang sehari-hari dilakukan oleh masyarakat, namun secara tidak sadar.

Oleh karena itu, pihaknya berkolaborasi dengan berbagai pihak agar para peserta dapat melepaskan penatnya hidup dengan cara yang berbeda. (Hadid Husaini)

Responsive Images

You cannot copy content of this page