
Kota Mojokerto, Kabarterdepan.com – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PUPR Perakim) Kota Mojokerto telah menyiagakan Rumah Pompa Air (RPA) di titik-titik strategis.
Hal itu sebagai langkah antisipatif sebab setiap musim hujan tiba, sejumlah wilayah di Kota Mojokerto kerap dilanda banjir akibat meluapnya beberapa sungai besar seperti Sungai Sumberngrayung, Sungai Sadar, dan Sungai Sumberkembar.
21 Rumah Pompa Air Tersebar di Kota Mojokerto
Total ada 21 RPA yang tersebar di berbagai titik rawan genangan di Kota Mojokerto, antara lain:
1. RPA Letkol. Sumarjo Rumah Dinas Walikota
2. RPA Bhayangkara
3. RPA Lingkungan Kuti, Kelurahan Gunung Gedangan
4. RPA Griya Permata Meri (sisi utara)
5. RPA Griya Permata Meri (sisi barat)
6. RPA Gunung Anyar
7. RPA Gunung Gedangan (Kedungturi)
8. RPA Miji Baru Gg. III
9. RPA Ngaglik
10. RPA Kedung Kwali (TK Batik)
11. RPA Pahlawan
12. RPA Gajah Mada
13. RPA Meri-Dukuhan
14. RPA Trenggilis (Perumdam)
15. RPA Kedungsari
16. RPA Underpass Benpas
17. RPA Prajurit
18. RPA Bancang-Wates
19. RPA Gedung MPP Gajahmada
20. RPA Gedongan
21. RPA Mentikan
Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Perakim Kota Mojokerto, Basuki, mengatakan bahwa rumah-rumah pompa tersebut telah dibangun sejak lama dan lokasi pembangunan RPA diprioritaskan di kawasan yang sering mengalami genangan air saat hujan deras.
“Kita upayakan 21 rumah pompa ini sebagai kendali banjir. Di wilayah yang kita dirikan rumah pompa ini rata-rata di sekitar biasanya terjadi genangan seperti di Meri, Ngaglik, Gunung Gedangan,” ujarnya saat ditemui, Senin (6/10/2025).
Operator Siaga Saat Musim Hujan
Masing-masing rumah pompa memiliki operator yang bersiaga setiap kali hujan deras turun.
“Sekarang kita memasuki musim hujan. Oktober–November ini biasanya kita sudah menyiapkan rumah pompa itu. Kita minta para operator untuk stand by,” jelasnya.
Selain itu, Dinas PUPR Perakim juga menyiapkan empat unit pompa portable yang disiagakan di halaman kantor dinas. Pompa tersebut akan diterjunkan untuk membantu daerah yang tidak memiliki rumah pompa tetap dan juga untuk membantu mengatasi genangan air yang tinggi.
“Kalau genangannya tinggi, kita bantu dengan pompa portable. Setiap laporan masuk, kita langsung kontak para operator pompa yang ada di sekitar lokasi,” tambah Basuki.
Basuki menyebut total anggaran Sumber Daya Air salah satunya untuk pengendalian banjir mencapai sekitar Rp6 miliar, termasuk untuk pembangunan saluran, pemeliharaan rumah pompa, dan perbaikan plengsengan atau saluran rusak.
“Tidak hanya untuk rumah pompa saja, artinya jika ada plengsengan yang ambrol kita bangun, kalau saluran masih berupa tanah kita betonisasi. Karena kita membidangi Sumber Daya Air, maka fokus kami adalah membenahi saluran-saluran yang rusak atau yang belum ada pengendali banjirnya,” jelasnya.
Rumah Pompa Air Efektif dalam Pengendalian Banjir

Menurut Basuki, keberadaan rumah pompa terbukti efektif dalam mengurangi genangan di wilayah yang kerap banjir.
“Dampaknya signifikan. Rumah pompa membantu mengurangi genangan, terutama di wilayah yang langganan banjir. Operator stand by bahkan saat malam jika hujan deras,” katanya.
Namun, ia mengakui jika curah hujan ekstrem di atas 100 mm per hari, pihaknya tidak dapat mencegah atau mengatasi genangan air dengan menggunakan pompa. Belum lagi, kota juga mendapatkan kiriman air dari wilayah kabupaten yang merupakan hulu dan hilir sehingga berisiko genangan tinggi.
“Kita termasuk tengah, hulunya dari kabupaten, hilirnya juga kabupaten. Kita wilayahnya cekungan, kalau sama-sama deres kita nggak bisa ngatasin, tapi kalau hujannya normal, Insyallah kita bisa mengatasi dengan pompa,” sambungnya.
Pemeliharaan Rumah Pompa Air Rutin
Selain itu, Basuki mengungkapkan bahwa pihaknya juga melakukan pengecekan kondisi pompa. Bila ditemukan kerusakan seperti tidak berfungsi secara maksimal ketika menyerap air maka akan segera dilakukan pembenahan atau pemeliharaan. (*)
