Proyek PSEL DIY Masih Menggantung, Bantul Siap Penuhi Pasokan Sampah

Avatar of Redaksi
bantul
Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih. (Hadid Husaini/kabarterdepan.com)

Bantul, Kabarterdepan.com – Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menyampaikan pihaknya masih menunggu kepastian lanjutan proyek pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).

“Ya, kita dalam posisi menunggu itu semua. Komitmen penandatanganan sudah dilakukan semuanya bersama gubernur,” kata Halim saat ditemui di Kompleks Kepatihan, Danurejan, Kota Yogyakarta, Jumat (20/2/2026).

Ia menegaskan, saat ini Pemerintah Kabupaten Bantul berada pada posisi menunggu kejelasan dari pihak pusat sekaligus mempersiapkan porsi tanggung jawab daerah.

“Karena yang membangun itu bukan kita. Posisi kita menunggu dan mempersiapkan apa yang menjadi porsi kita,” ujarnya.

Bantul Wajib Sediakan Pasokan Sampah

Halim menjelaskan, Bantul hanya mendapat kewajiban menyediakan pasokan sampah sebagai bahan baku PSEL. Pemerintah daerah, kata dia, berupaya memfasilitasi proyek pemerintah pusat yang pendanaannya melalui Danantara.

“Rapat-rapat sudah dilakukan di Jakarta maupun di sini. Seluruh bupati dan wali kota terutama Kartamantul – Yogyakarta, Sleman, Bantul – sudah tanda tangan,” katanya.

Ia juga menyebut Gubernur DIY serta Bupati Gunungkidul dan Kulon Progo turut menandatangani komitmen dukungan.

“Ngarsa Dalem tanda tangan, bahkan Bupati Gunungkidul dan Kulon Progo juga tanda tangan. Jadi posisi kami menunggu Danantara bagaimana kelanjutannya, apakah dilanjutkan atau bagaimana, kita belum tahu,” jelasnya.

PSEL yang direncanakan berdiri di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan itu membutuhkan minimal 1.000 ton sampah per hari untuk bisa memproduksi listrik secara ekonomis.

“Kalau di bawah seribu ton, itu tidak ekonomis. Bisa rugi. Seribu ton itu diperoleh dari berbagai kabupaten, termasuk Gunungkidul dan Kulon Progo yang sudah tanda tangan, artinya untuk memenuhi kebutuhan itu,” ujar politisi PKB tersebut.

 

Terkait pemenang tender proyek, Halim mengaku belum mengetahui karena proses pengadaan dilakukan langsung oleh Danantara.

“Saya tidak tahu, karena pengadaan barang dan jasa ada di Danantara langsung,” katanya.WhatsApp Image 2026 02 21 at 9.54.36 AM

Ia menambahkan, hingga saat ini belum ada keluhan masyarakat terkait rencana pembangunan PSEL di kawasan Piyungan.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY Kusno Wibowo menegaskan bahwa Yogyakarta termasuk daerah prioritas pembangunan PSEL berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 109.

“Yogyakarta merupakan daerah prioritas PSEL. Pembangunan ini didanai Danantara dan BUPP,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kewajiban pemerintah daerah adalah menyediakan lahan serta menjamin pasokan sampah minimal 1.000 ton per hari.

Dari total kebutuhan tersebut, Kota Yogyakarta menyuplai sekitar 300 ton per hari, Bantul 250 ton per hari, dan Sleman 450 ton per hari.

“Komitmen volume itu sudah disepakati. Masing-masing kabupaten/kota juga memiliki armada. Kota Jogja misalnya punya 29 dump truck dan 19 konverter. Bantul dan Sleman masih membutuhkan tambahan armada,” katanya.

Lokasi PSEL direncanakan berada di Dusun Ngablak, Kalurahan Sitimulyo, Kapanewon Piyungan, Kabupaten Bantul, di atas lahan milik Pemerintah DIY seluas 5,7 hektare.

Tanggung jawab pengukuran dan penyiapan teknis dilakukan bersama pemerintah kabupaten/kota, sementara dukungan transportasi publik menjadi tanggung jawab Pemda DIY dan daerah terkait.

Kusno menambahkan, penetapan Kota Yogyakarta, Sleman, dan Bantul sebagai lokasi PSEL tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup. DIY menjadi salah satu dari empat lokasi prioritas nasional untuk tahap awal pembangunan.

Ia memaparkan, Perpres diterbitkan pada 10 Oktober 2025, dilanjutkan rapat koordinasi di kementerian pada 24 Oktober 2025 yang dihadiri Gubernur DIY, dan pada 28 Oktober 2025 dilakukan penetapan lokasi PSEL termasuk DIY. Perjanjian Kerja Sama (PKS) internal daerah juga telah ditandatangani para bupati/wali kota dan gubernur.

Proses lelang Badan Usaha Pelaksana Proyek (BUPP) telah dilakukan pada November 2025, dengan pengumuman pemenang dijadwalkan pada 24 Februari 2026.

“Rencana awal groundbreaking antara Maret sampai pertengahan tahun. Konstruksi diperkirakan 18 sampai 24 bulan. Kalau groundbreaking pertengahan tahun, maka konstruksi dua tahun, kemungkinan selesai pada 2028,” pungkasnya. (Hadid Husaini)

Responsive Images

Tinggalkan komentar

You cannot copy content of this page