Medan  

Pilu Seorang Ibu, Anak Siswa SD Dipermalukan di Sekolah karena Belum Bayar SPP

Avatar of Redaksi
IMG 20250111 WA0022
Potret siswa yang dihukum karena tunggakan pembayaran SPP. (Redaksi / Kabarterdepan.com)

Medan, Kabarterdepan.com – Video seorang siswa SD Yayasan Abdi Sukma di Kota Medan, Sumatera Utara, berinisial MI, yang dihukum belajar sambil duduk di lantai karena menunggak pembayaran SPP, memicu kehebohan setelah viral di media sosial.

Dalam video yang beredar, tampak AM, ibu dari MI, mendatangi guru di sekolah tersebut untuk meminta penjelasan atas perlakuan yang diterima anaknya.

“Begini loh, Bu, dia ini disoraki dari tadi di luar saya datang. Bu, ambil rapot, Mesia duduk di bawah, dia nangis loh, Bu,” ucap AM dengan suara gemetar sambil menangis, menegur guru yang memberikan hukuman itu.

AM mengungkapkan bahwa ia sangat terkejut ketika mendengar cerita dari anaknya yang baru berusia 10 tahun. MI bercerita bahwa ia dihukum belajar di lantai sejak 6 Januari 2025 karena keluarganya belum melunasi tunggakan SPP selama tiga bulan. Akibat hukuman tersebut, MI merasa dipermalukan di depan teman-temannya hingga membuatnya menangis dan enggan berangkat ke sekolah.

“Dia nangis mau pergi sekolah, dia bilang, ‘Mamak, MI malu duduk di bawah.’ Dia bahkan sempat nggak mau sekolah karena malu. Di mana sih perasaan seorang ibu? Anak saya harus menanggung malu seperti ini, Bu,” ujar AM dengan emosi saat berhadapan dengan guru tersebut.

Menurut AM, ia awalnya tidak mengetahui bahwa anaknya mendapatkan hukuman seperti itu. Namun, ia mulai curiga ketika MI beberapa kali menolak untuk pergi ke sekolah. Pada 8 Januari 2025, AM memutuskan untuk mendatangi sekolah dan menyaksikan langsung kondisi anaknya yang duduk di lantai selama proses belajar mengajar berlangsung. Ia mengaku tak kuasa menahan tangis melihat anaknya diperlakukan demikian.

“Pada tanggal 8 Januari pagi, anak saya tidak mau sekolah karena malu. Saya awalnya tidak tahu kalau dia sudah tiga hari dihukum duduk di lantai kelas,” kata AM.

AM menjelaskan bahwa ia belum bisa membayar SPP karena kondisi keuangan keluarganya yang sulit. Saat ini, AM sedang menghadapi masalah kesehatan yang membutuhkan operasi sehingga ia belum dapat bekerja. Selain itu, suaminya juga tidak berada di rumah untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

“Jangan gitu, Bu. Saya dulu juga pernah sekolah. Peraturan apa yang membolehkan anak dihukum duduk di lantai gara-gara belum bayar uang sekolah? Saya dulu sering telat bayar uang sekolah, tapi tidak pernah dipermalukan seperti ini. Anak-anak itu harusnya diberi dorongan, bukan dipermalukan,” ungkap AM dengan nada sedih.

AM menambahkan bahwa ia tidak keberatan jika anaknya dihukum karena alasan akademik, misalnya jika MI tidak mengerjakan PR atau melanggar aturan sekolah. Namun, ia merasa hukuman yang menjatuhkan harga diri anaknya di depan teman-teman sekelasnya hanya karena belum melunasi uang SPP adalah tindakan yang tidak manusiawi.

“Kalau dia enggak ngerjakan PR, saya enggak akan marah kalau dia dihukum. Bahkan kalau disuruh memungut sampah atau dijewer sekalipun, saya enggak akan protes. Tapi kalau gara-gara belum bayar uang sekolah, dia harus belajar di lantai, itu keterlaluan. Sedikit saja perasaan Ibu sebagai pendidik harusnya ada,” katanya penuh harap.

Dalam video yang sama, guru yang dihujani pertanyaan oleh AM tampak menolak untuk mengakui kesalahannya. Guru tersebut juga meminta AM untuk menemui kepala sekolah jika ingin menyelesaikan masalah ini secara tuntas.

Insiden ini memicu banyak komentar di media sosial. Banyak pihak yang mengecam tindakan sekolah tersebut, menganggap hukuman itu tidak mendidik dan melanggar hak anak. Publik mendesak pihak sekolah untuk memberikan klarifikasi dan solusi agar kejadian serupa tidak terulang kembali. (Firda*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page