Siap Panen, Petani Sragen Masih Sulit Masuk Rantai Pasok SPPG

Avatar of Redaksi
Sragen
Selada hidroponik milik Riki Astono belum dilirik SPPG dalam program MBG (Foto: Masrikin/kabarterdepan.com)

Sragen, Kabarterdepan.com – Sejumlah pelaku usaha ketahanan pangan di Kabupaten Sragen mengaku belum mampu menembus pasar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat, meski telah meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi mereka.

Salah satunya Riki Astono, petani selada hidroponik asal Desa Kedung, Kecamatan Mondokan. Meski baru pertama kali mengembangkan budidaya selada dengan sistem hidroponik modern, ia mengaku puas dengan hasil tanamannya.

“Saat ini sudah mendekati waktu panen. Mungkin tiga sampai empat hari lagi bisa panen perdana,” ujarnya, Senin (23/2/2026).

Riki menuturkan, selada siap panen tersebut telah ia tawarkan ke pasar tradisional, rumah makan, hingga beberapa mitra swasta.

Namun, harapannya agar produk tersebut dapat diserap oleh SPPG untuk mendukung program makan bergizi gratis masih belum terwujud.

“Awalnya kami berharap bisa menjadi pemasok sayuran untuk SPPG lokal. Tapi ternyata tidak mudah untuk bisa masuk dan menjadi mitra pemasok,” katanya.

Menurut Riki, terdapat sejumlah persyaratan administrasi dan standar teknis yang harus dipenuhi untuk menjadi pemasok resmi. Meski kualitas dan kontinuitas produksi telah dijaga, hingga kini belum ada kontrak kerja sama dengan SPPG.

Riki, yang memiliki usaha budidaya buah premium dengan sistem greenhouse, menambahkan bahwa beberapa SPPG di Kecamatan Mondokan sudah mulai beroperasi. Ia berharap produk pertaniannya bisa ikut berkontribusi dalam program tersebut.

WhatsApp Image 2026 02 23 at 11.37.27 AM

BUMDes Mondokan Sragen Belum Bisa Akses Dapur MBG

Kondisi serupa juga dialami pengurus Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Kecamatan Mondokan yang mengembangkan budidaya melon dengan sistem greenhouse. Dalam beberapa kali masa panen, hasil produksi mereka belum terserap oleh SPPG.

“Dalam beberapa kali panen, kami belum bisa diserap SPPG. Penjualan masih melalui pihak ketiga atau pengepul pedagang buah. Untuk SPPG sendiri belum ada pesanan,” ungkap Juki, salah satu pengurus BUMDes Gemantar.

Padahal, budidaya selada hidroponik dan melon greenhouse yang dikembangkan dinilai memiliki kualitas yang mampu bersaing di pasar modern. Selain menjaga mutu produk, sistem tersebut memungkinkan produksi lebih stabil sepanjang tahun.

Para pelaku usaha berharap adanya komunikasi dan pendampingan lebih lanjut dari pihak terkait agar produk pertanian lokal dapat diprioritaskan dalam pengadaan bahan pangan program makan bergizi gratis.

Mereka menilai, jika hasil pertanian lokal terserap secara optimal, program tersebut tidak hanya meningkatkan asupan gizi masyarakat, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi serta memperkuat kemandirian pangan di tingkat desa.

Hingga kini, para pelaku usaha di Mondokan, Sragen, masih menunggu peluang kerja sama dengan SPPG agar hasil pertanian lokal benar-benar memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat. (Masrikin)

Responsive Images

Tinggalkan komentar

You cannot copy content of this page