
Dharmasraya, KabarTerdepan.com– Gelombang keresahan tengah melanda para petani sawit dan karet di Kabupaten Dharmasraya.
Dalam beberapa bulan terakhir, kasus pencurian hasil kebun terus meningkat, membuat petani kehilangan sumber penghidupan utama mereka.
Sebagai daerah agraris, mayoritas masyarakat Dharmasraya menggantungkan hidup dari sektor perkebunan, terutama sawit dan karet. Namun kini, harapan mereka pupus karena hasil panen kerap hilang sebelum sempat dijual.
“Setiap pagi saya menyadap getah karet. Sabtu biasanya saya kumpulkan, lalu Minggu dijual untuk kebutuhan rumah. Tapi sekarang, getah yang saya potong sore hari, besok pagi sudah hilang. Kami hanya bisa menangis,” ujar Rizal, petani di Nagari IV Koto Pulau Punjung, dengan mata berkaca-kaca, Jumat (13/6/2025).
Rizal menegaskan, pencurian ini berdampak langsung terhadap biaya hidup dan pendidikan anak-anaknya.
“Kami hidup dari getah itu. Sekolah anak, belanja dapur, semua dari situ. Tapi sekarang malah nombok, utang makin menumpuk,” keluhnya.
Nasib serupa dialami Herman, petani sawit dari Nagari Sungai Kambut. Ia mengaku buah sawitnya dipanen orang lain sebelum waktunya.
“Sebelum panen, sawit sudah lenyap. Kami rugi besar. Laporan sudah disampaikan ke kepala jorong, tapi belum ada tindakan nyata,” ungkap Herman.
Tak tinggal diam, sebagian petani mencoba menjaga kebun secara mandiri. Ada yang berjaga malam, bahkan memasang jebakan paku untuk menghalau pelaku pencurian. Namun semua itu belum efektif.
“Saya pernah tidur di kebun malam hari untuk menjaga panen. Tapi manusia juga butuh istirahat. Pencurian tetap terjadi. Kalau begini terus, kami bisa tidak makan,” kata Eri, petani lainnya, dengan nada putus asa.
Para petani meminta tindakan tegas dari pemerintah daerah dan aparat penegak hukum, terutama untuk menekan peredaran hasil curian di pasar. Mereka mendesak adanya regulasi dan pengawasan ketat terhadap penerima hasil panen, seperti RAM (penerima sawit) dan toke karet.
“Kami berharap pemerintah menerbitkan surat edaran kepada RAM dan pembeli karet agar hanya membeli dari sumber yang jelas. Tolong data dan awasi semua titik pembelian. Ini untuk menyelamatkan petani,” tegas Rizal.
Jika situasi ini terus dibiarkan, maka tak hanya petani yang terancam, tetapi juga stabilitas ekonomi lokal dan ketahanan pangan. Praktik pencurian ini tak ubahnya pembiaran terhadap kejahatan terstruktur jika tidak ditangani serius oleh aparat.(Dicka)
