Opini  

Perempuan dalam Kacamata Media, Objektifitas, Eksploitasi, dan Realitas Sosial

Avatar of Redaksi
IMG 20250202 WA0011
Ilustrasi perempuan dalam kacamata media (Gian / Kabarterdepan.com)

Opini, Kabarterdepan.com – Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya “Wanita Cantik Memang Layak Dijual, Refleksi Diri Antara Privilege atau Petaka”. Hanya saja artikel ini akan lebih menyoroti persoalan kacamata media dalam memandang perempuan yang masih dijadikan objektifikasi, bahan eksploitasi untuk keperluan bisnis, hingga bagaimana persoalan ini menciptakan suatu kontruksi sosial yang mempengaruhi realitas sosial.

Saya mengerti media pasti punya kepentingan. Alih-alih untuk kepentingan bisnis, media seringkali menghalalkan segala cara untuk meraup keuntungan. Termasuk melakukan ‘penghisapan’ terhadap perempuan demi mengejar rating atau jangkauan seluas mungkin.

Terdengar seperti menyenggol azas kapitalisme, tapi begitulah cara kebanyakan sistem industri media bekerja. Tidak heran jika banyak kajian ilmiah ataupun opini dari para pakar yang secara tajam mengkritik persoalan ini.

Objektifikasi dan Bahan Eksploitasi

Cara paling sederhana dalam melihat persoalan ini ialah dengan melihat bagaimana media iklan memperlakukan perempuan. Karena terang-terangan memandang secara diskriminatif, eksploitatif, dan mengobjektifikasi keindahan perempuan untuk menarik konsumen. Perempuan seakan-akan terlihat seperti komoditi, ataupun benda komersial yang disebar secara masif untuk menjadi konsumsi masyarakat.

Ada media televisi, sinetron, dan film yang kebanyakan memvisualkan perempuan masih dalam jeratan budaya patriarki. Kiprahnya kebanyakan berada di urusan dapur atau pengurus rumah tangga. Menjadi pelengkap sosok pria yang lebih mendominasi.

Julia T. Wood dalam bukunya Gendered Lives: Communication, Gender and Culture yang terbit tahun 1994, menyatakan bahwa media tetap saja menyajikan laki-laki dan perempuan dengan cara yang stereotipikal yang membatasi persepsi kita tentang kemungkinan-kemungkinan manusia.

Media menginginkan sisi sensualitas dari sosok perempuan. Baik itu bentuk tubuhnya, kecantikannya, karakternya, atau mungkin lagak seksisnya. Tak jarang jika perempuan dalam media hanya dijadikan objek desire atau objek fantasi.

Hal tersebut serupa dengan yang diungkapkan oleh Robeet Thadi dalam penelitiannya Citra Perempuan dalam Media yang terbit tahun 2014, Sensualitas perempuan dijadikan umpan untuk penarik perhatian audiens, terutama laki-laki. Karena secara psikologi manusia suka melihat keindahan yang menarik ditangkap mata.

Ironi kalau sejatinya perempuan yang lahir secara fitrah lalu bertumbuh dewasa kemudian ‘menyerahkan’ tubuhnya kepada industri media. Yaa… Tidak semua media sama! Setiap media punya kacamatanya sendiri dalam memandang sosok perempuan.

Tapi intinya tetaplah hampir sama, media memandang perempuan sebagai objek yang memberikan keuntungan. Bahkan saya bisa berkata kalau “Seluruh tubuh perempuan ialah pasar yang menjanjikan”.

Kontruksi Sosial & Realitas Sosial

Kalian sadar atau tidak kalau apa-apa yang ditampilkan dalam media adalah representasi dari kondisi nyata di dunia. Media itu bagaikan cermin atas realitas sosial, jadi apapun yang ditampilkan di dalam media, yaa.. itulah kenyataan yang sedang terjadi. Namun realitas sosial yang dicerminkan dalam media merupakan sebuah hasil dari suatu konstruksi sosial yang dirancang oleh media itu sendiri.

Hal tersebut senada dengan Eriyanto dalam penelitiannya Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi dan Politik Media yang terbit tahun 2005, mengungkapkan bahwa pekerjaan media pada hakekatnya adalah mengonstruksi realitas, dan isi media adalah hasil karya para pekerja media mengonstruksi berbagai realitas yang dipilihnya.

Jika mengambil contoh media iklan, maka seringkali kita melihat sosok perempuan yang menampilkan sisi sensualitasnya ditambah dengan label kalimat-kalimat seperti “ingin kulit cantik lembut? Ingin wajah cantik cerah berseri?”.

Nah inilah media memiliki kekuatan membentuk pola pikiran masyarakat kalau ohh… ternyata cantik itu yang visualnya seperti itu, ohh… wajah cantik itu harus yang begitu. Sehingga realitas sosial akan berubah sesuai dengan apa yang media dikte.

Adapun contoh lainnya yaitu judul-judul berita dalam media yang masih sering menggunakan kata-kata yang sebenarnya tidak perlu dicantumkan. Seperti “Perempuan cantik ini jadi incaran pria sekampung,” atau “Seorang perempuan seksi diam-diam mencuri ponsel di toko A”.

Hal-hal semacam itu tentunya mempengaruhi realitas sosial, mempengaruhi cara berpikir masyarakat. Maka, sah saja jika ada yang bilang media itu industri yang rawan dimanfaatkan oleh kepentingan politik, karena bisa mempengaruhi cara berpikir masyarakat.

Saya ingin media lebih adil dan humanis dalam menggambarkan sosok perempuan. Kekuatan media ialah membentuk konstruksi sosial yang akan berdampak pada realitas sosial, salah satu contohnya ialah standar kecantikan. Media harus menjadi pembebas dari budaya patriarki yang mengakar.

Kita juga tidak boleh terperangkap oleh keindahan perempuan yang divisualkan di media. Terakhir yaa… realistis saja industri media mungkin tidak bisa lepas dari kepentingan komersial yang menguntungkan. Tapi kalau bisa jangan mengabaikan hak dan martabat perempuan. (*)

Penulis Gian Alfianuddin, Video Editor Kabar Terdepan

Responsive Images

You cannot copy content of this page