Perayaan Cap Go Meh di Hiap Thian Kiong, Wujud Syukur dan Harmoni Warga Mojokerto

Avatar of Redaksi
Perayaan Cap Go Meh
Perayaan Cap Go Meh di Klenteng Hiap Thian Kiong Mojosari, Kabupaten Mojokerto. (Ezra/Kabarterdepan.com)

Kabupaten Mojokerto, KabarTerdepan.com – Perayaan Cap Go Meh di Klenteng Hiap Thian Kiong Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Senin (02/03/2026), berlangsung khidmat dan penuh kehangatan.

Perayaan yang menjadi penutup rangkaian Tahun Baru Imlek ini dihadiri sekitar seratus umat serta warga Mojosari dan sekitarnya dengan suasana kebersamaan yang kental.

Makna Perayaan Cap Go Meh

Perayaan Cap Go Meh identik dengan tradisi makan lontong Cap Go Meh yang sarat makna akulturasi budaya. Hidangan tersebut menjadi simbol perpaduan budaya Tiongkok dan cita rasa Nusantara yang telah mengakar selama puluhan tahun di tengah masyarakat. Momentum ini tidak sekadar seremoni, tetapi juga ruang mempererat persaudaraan lintas generasi.

“Perayaan Cap Go Meh itu sama dengan perayaan setelah Idulfitri kupatan, cuma di sini lontong Cap Go Meh, perpaduan budaya dari Tiongkok dipadukan dengan menu masakan Indonesia. Jadi Cap Go Meh ini istilahnya adalah makan lontong Cap Go Meh,” ujar Suro Santoso, Ketua Klenteng Hiap Thian Kiong Mojosari.

Ia menjelaskan, Cap Go Meh merupakan hari kelima belas setelah Tahun Baru Imlek yang menjadi momen penutupan seluruh rangkaian perayaan.

Tradisi tersebut dijalankan secara turun-temurun sebagai bentuk syukur sekaligus harapan atas kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru.

“Penutupan Imlek itu Cap Go Meh,” ujar Suro Santoso.

WhatsApp Image 2026 03 03 at 9.09.24 AM 1

Ibadah yang digelar di dalam klenteng berlangsung dengan tertib dan penuh kekhusyukan. Umat menyalakan hio, memanjatkan doa, serta mempersembahkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah dan perlindungan yang diterima selama setahun terakhir.

“Ya biasa sembahyang penutupan Imlek, Cap Go itu kan lima belas jadi lima belas hari setelah Imlek kita sembahyang penutupan mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa,” ujar Suro Santoso.

Selain menjadi ritual keagamaan, Cap Go Meh juga dipandang sebagai momentum memperkuat nilai kekeluargaan. Warga yang hadir tampak saling menyapa, berbagi hidangan, serta menikmati suasana yang hangat di halaman klenteng.

Harapan besar turut disematkan dalam perayaan tersebut. Nilai-nilai yang diwariskan para orang tua terdahulu kembali dihidupkan sebagai pedoman menjalani kehidupan dengan semangat kerja keras dan kebersamaan.

“Tentu harapannya mengikuti harapan orang tua zaman dahulu semoga usaha lancar, berkeluarga bahagia, harmonis, rukun,” ujar Suro Santoso.

Kehadiran ratusan umat dan warga Mojosari mencerminkan kuatnya toleransi serta hubungan sosial yang terjalin baik di wilayah Kabupaten Mojokerto.

“Lalu yang hadir ini sekitar seratus orang Mojosari dan sekitarnya,” ujar Suro Santoso.

Cap Go Meh di Klenteng Hiap Thian Kiong Mojosari bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan cerminan harmoni budaya dan keberagaman yang hidup berdampingan.

Di tengah arus modernisasi, nilai syukur, persaudaraan, dan harapan tetap menjadi inti perayaan yang terus dijaga dari generasi ke generasi. (Ezra)

Tinggalkan komentar

You cannot copy content of this page