Penjaga Hotel di Mantrijeron Terima Bantuan Bedah Rumah dari Pemkot Yogyakarta

Avatar of Jurnalis: Ahmad
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo saat mengunjungi lokasi bedah rumah di Kemantren Mantrijeron, Kota Yogyakarta, DIY, Minggu (12/10/2025). (Hadid Husaini/kabarterdepan.com)
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo saat mengunjungi lokasi bedah rumah di Kemantren Mantrijeron, Kota Yogyakarta, DIY, Minggu (12/10/2025). (Hadid Husaini/kabarterdepan.com)

Yogyakarta, kabarterdepan.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta memberikan bantuan Bedah rumah tidak layak huni kepada Ignatius Hari Susetyo, warga Kemantren Mantrijeron, Kota Yogyakarta, yang hidup seorang diri dan mengalami sakit jantung serta epilepsi.

Hari diketahui tinggal di rumah berukuran kecil dengan kondisi tidak layak. Bagian tembok tampak rapuh, cat mengelupas, dan sebagian atap rusak. Karena khawatir bangunan roboh, Hari memilih tidur di teras rumah setiap malam.

“Kalau sudah pulang kerja ya tidur, kalau nggak tidur ya nyapu. Malamnya jaga hotel dari jam empat sore sampai pagi,” ujarnya.

Ia bekerja sebagai penjaga hotel dengan penghasilan sekitar Rp500 ribu per bulan. Selain itu, ia harus rutin berobat untuk penyakit jantung dan epilepsi yang dideritanya.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengunjungi rumah Hari pada Minggu (12/10/2025) bersama sejumlah pejabat dan perwakilan swasta untuk menyerahkan bantuan secara langsung.

“Beliau (Hari) ingin punya rumah bagus, tapi takut roboh. Kalau dengan anggaran pemerintah tidak bisa, maka kami mengajak warga bergotong royong,” kata Hasto.

Bedah Rumah Kota Yogyakarta

Dalam kunjungan tersebut, turut hadir Ketua DPRD Kota Yogyakarta, sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), perwakilan Bank BPD DIY, dan pelaku usaha perhotelan. Bantuan yang terkumpul berupa uang tunai dan material bangunan dengan nilai puluhan juta rupiah.

Hasto menyebut program bedah rumah melalui skema Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) menjadi salah satu upaya Pemkot pengentasan kawasan kumuh di perkotaan.

“Tekad kami menyelesaikan hunian kumuh. Targetnya ada sekitar tujuh ribu rumah yang bisa diperbaiki selama masa jabatan,” katanya.

Selain perbaikan rumah, Pemkot juga berupaya meningkatkan akses layanan publik di permukiman padat, seperti pemasangan hidran di gang sempit dan penyediaan tenaga kesehatan keliling.

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Mantrijeron, Eko Teguh, mengatakan bantuan yang diberikan merupakan bentuk kepedulian pemerintah terhadap warga kurang mampu.

“Bantuan terakhir diterima sekitar 10–15 tahun lalu. Sekarang nilainya ditambah agar rumahnya bisa lebih layak,” ujarnya. (Hadid Husaini)

Responsive Images

You cannot copy content of this page