Pengakuan Warisan Budaya Tak Benda Semarakkan Perayaan Bukakak di Giri Emas

Avatar of Redaksi
IMG 20250414 WA0002
Perayaan Bukakak di Giri Emas, Buleleng  Bali. (Angga Wijaya/kabarterdepan.com)

Buleleng, Kabarterdepan.com- Sukacita dan rasa syukur mewarnai Desa Giri Emas, Buleleng, pada Minggu (13/4/2025) bertepatan dengan Purnama Sasih Kedasa.

Tradisi Ngusaba Bukakak, sebuah ritual unik yang melambangkan kesuburan, kini resmi menyandang status Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).

Penetapan ini dirayakan dengan meriah oleh masyarakat setempat, disaksikan langsung oleh Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, dan Wakil Bupati Gede Supriatna.

Ketua Panitia, Wayan Sunarsa, mengungkapkan bahwa Bukakak yang diwujudkan dalam bentuk burung garuda dari daun enau muda dan dihiasi kembang sepatu merupakan simbol rasa terima kasih kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa atas anugerah kesuburan tanah dan hasil panen yang melimpah.

“Ngusaba Bukakak ini adalah ungkapan terima kasih kepada Dewi Kesuburan atas hasil pertanian yang baik,” jelas Sunarsa.

Keunikan Bukakak terletak pada simbolisme di dalamnya. Seekor babi dengan tiga warna yang terdapat di dalam Bukakak melambangkan perpaduan tiga sekte utama dalam agama Hindu: Siwa, Wisnu, dan Sambhu. Bagian punggung babi yang dipanggang matang berwarna merah, melambangkan Dewa Brahma (dalam beberapa interpretasi), bagian bawah yang mentah berwarna putih melambangkan Dewa Siwa, dan bagian yang masih berbulu berwarna hitam melambangkan Dewa Wisnu.

Prosesi pengusungan Bukakak juga memiliki aturan adat yang khas. Warga dewasa dengan pakaian adat putih merah bertugas mengusung Bukakak utama, yang disebut sarad ageng, melambangkan kesatuan semesta.

Sementara itu, remaja dengan pakaian putih kuning mengusung sarad alit, yang melambangkan tunas kehidupan dan harapan akan masa depan yang sempurna. Tak jarang, para pria dewasa menghias wajah mereka dengan coretan-coretan tradisional selama prosesi.

Meskipun Bukakak menjadi daya tarik utama, tradisi ini sebenarnya merupakan bagian dari rangkaian panjang Upacara Ngusaba di Desa Giri Emas. Rangkaian upacara meliputi Melasti, Ngusaba Uma, Ngembang dan Nuntun, menaikkan Dangsil, hingga puncak acara Ngusaba Gede dan ditutup dengan tarian “plaus” sebagai ungkapan syukur.

Tradisi yang digelar dua tahun sekali ini menjadi identitas budaya yang kuat bagi Desa Giri Emas, yang dikenal sebagai daerah dengan hasil bumi melimpah sejak pemekarannya dari Desa Sangsit pada tahun 2005.

Penetapan sebagai WBTB diharapkan semakin memperkokoh nilai-nilai luhur warisan leluhur dan menarik wisatawan untuk menyaksikan keunikan tradisi ini. (Wij)

Responsive Images

You cannot copy content of this page