Peneliti UGM Bentuk Tim Tangguh Desain Hunian Standar Bagi Pengungsi Bencana Sumatera: Kalau Cuma Diberi Tenda dan Terpal Tidak Manusiawi

Avatar of Redaksi
Tim Peneliti UGM
Pembuatan Hunian Sederhana dengan memanfaatkan kayu untuk pengungsi Bemcana Sumatera. (Tim Peneliti UGM for kabarterdepan.com)

Sleman, kabarterdepan.com – Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui grup penelitian ‘Tangguh’ merencanakan proyek desain hunian sementara bagi korban terdampak bencana di Sumatera.

Proyek tersebut melibatkan sejumlah peneliti. Salah Satunya adalah Ardhya Nareswari. Disebutnya, jumlah korban terdampak banjir dan longsor di Sumatera begitu masif.

Peneliti Tangguh UGM

Nares, selaku salah satu dari peneliti UGM mengungkapkan alasan konsep ini muncul karena kondisi di lapangan. Jumlah korban yang sangat besar.

“Ini termasuk kerusakan bangunan yang mencapai puluhan ribu unit,” katanya, Jumat (19/12/2025).

Ia menambahkan sejumlah kendala lainya diantaranya lokasi terdampak yang sulit diakses kendaraan membuat proses pemulihan berjalan lambat. Ia menyebut proses pemulihan memakan waktu bertahun-tahun.

Disebutnya, warga tidak bisa hanya diberi bantuan terpal dan tenda untuk tinggal sementara. Nares Bahkan menyebut hal itu tidak manusiawi.

“Berarti, bisa jadi warga itu akan berada di lokasi itu sebelum ada hunian yang tetap, itu pasti dalam jangka waktu yang lama,” katanya.

Nares menyampaikan perlu adanya hunian standar yang berbasis keluarga dan bukan komunal. Ia menyebut kayu-kayu besar yang hanyut bisa dimanfaatkan untuk membuat rumah sementara.

Tim Peneliti UGM

Setelah itu, pembuatan rumah bisa memanfaatkan teknologi sederhana dengan hubungan antar kayu tanpa kaki.

“Yang paling utama adalah pelibatan penyintas pada proses pembangunan, untuk meningkatkan rasa kepemilikan,” paparnya.

Soal struktur rancangan, Ashar Saputra, menyebutkan konsep huntar dan huntap yang mereka buat menggunakan  bahan papan kayu berukuran 3 x 12 cm.

Material utama yang dipilih adalah kayu yang berasal dari hanyutan banjir. Kayu relatif tahan hingga 3–4 tahun dalam berbagai kondisi cuaca.

“Strukturnya hanya pakai baut saja dan alatnya hanya bor. Harapannya itu, sangat sederhana sehingga orang awam dapat membuat rumahnya sendiri. Tempel, gapit, baut,” ungkapnya.

“Daripada kita menunggu satu rumah jadi satu-satu. Masyarakat juga akan merasa lebih memiliki, karena ikut serta dalam pembuatannya,” tegasnya.

Soal masa pakainya, Ashar memperkirakan sekitar 3–5 tahun, mengingat proses perencanaan rumah permanen sangat lama, mulai dari penyusunan hazard map hingga penentuan lokasi yang dapat dihuni maupun lokasi relokasi.

Disebutnya, teknik ini sebelumnya sudah pernah dilakukan di beberapa daerah terdampak bencana seperti Yogyakarta, Lombok, dan Palu. Terkait desain disebutnya bisa menyesuaikan dengan kondisi tanah maupun topografi yang ada di sekitarnya.

“Kalau di Lombok waktu itu pakai baja, lokasinya masih memungkinkan untuk membawa baja dari Pulau Jawa. Kalau Sumatera, lebih susah. Jadi, pemilihan material itu juga sangat tergantung lokasinya,” jelasnya.

Nares menjelaskan bahwa saat ini, proyek berada pada tahap mock-up dan perancangan teknis. Tahap selanjutnya adalah penyusunan brosur, poster, dan modul pelatihan agar masyarakat lokal dapat membangun rumah transisi secara mandiri dan lebih cepat. (Hadid Husaini)

Responsive Images

You cannot copy content of this page