Pendangkalan Sungai Hingga Efek Perhutanan Sosial KHDPK Jadi Isu Bencana Banjir di Grobogan

Avatar of Redaksi
IMG 20250312 WA0122
HUTAN GROBOGAN: Sebagian kondisi hutan diwilayah Kabupaten Grobogan dipenuhi tanaman musiman. (Masrikin/kabarterdepan.com)

Grobogan, kabarterdepan.com – Dalam kurun waktu dua tahun terakhir Kabupaten Grobogan menjadi sarang banjir. Di pertengahan bulan Maret 2024 tercatat sebanyak 103 Desa di 13 kecamatan terdampak banjir.

Maret 2025 ini kembali terulang, Kabupaten Grobogan dilanda banjir pada Minggu (9/3/2025) hingga Selasa (11/3/2025). Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Grobogan mencatat sebayak 23 desa di enam kecamatan terendam banjir.

Ironisnya, sejak Januari hingga Maret 2025 ini, kejadian banjir di Grobogan sudah terjadi untuk kesekian kalinya.

Cuaca ekstrem dengan intensitas hujan tinggi serta pendangkalan Sungai besar menjadi salah satu faktor utama penyebab banjir di Grobogan.

Disisi lain, sedang ramai diperbincangkan oleh sebagian warga masyarakat Grobogan, jika penyebab banjir yang sering terjadi juga disebabkan oleh kondisi hutan yang semakin gundul.

Sing genah alase entek mas (yang jelas, hutannya habis mas),” ujar Aris (48) warga kota Purwodadi yang sering terdampak banjir di Grobogan, Minggu (9/3/2024).

Terpisah, Adi (42) warga Kecamatan Geyer juga bersuara soal perhutanan sosial (PS) di Grobogan harus tetap memenuhi 30 persen tanaman keras, namun faktanya pengelola lahan PS hanya ditanami jenis tanaman musiman.

“Sebagian fungsi hutan sudah berubah, dari tanaman tahunan diganti dengan tanaman musiman (Jagung) semenjak adanya program Perhutanan Sosial seperti IPHPS dan KHDPK dari pemerintah,” katanya, Rabu (12/3/2025).

Sebetulnya, lanjut Adi, program perhutanan sosial sebetulnya sudah mengatur tentang presentase tanaman perhutanan sosial, dimana 50 persen harus tanaman keras, 30 persen tanaman buah, dan 20 persen tanaman semusim.

“Namun faktanya, banyak pengelola kawasan hutan di Grobogan diduga tidak mentaati aturan itu, terbukti tanaman musiman mendominasi area perhutanan sosial tersebut,” tandasnya.

Disisi lain, menanggapi hal alih Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Grobogan Wahyu menyatakan, jika Kondisi fisiologi Kabupaten Grobogan merupakan dataran rendah dan perbukitan sebagian merupakan kawasan perhutanan.

Penyebab banjir di Grobogan ada banyak faktor yang menjadi penyebab, hutan yang gundul menjadi salah satunya, tananan tahunan di kawasan hutan dapat sebagai filter resapan air hujan.

Wahyu mengaku jika pihak BPBD Grobogan belum melakukan survei lebih lanjut tentang kondisi hutan di wilayah Kabupaten Grobogan.

“Terkait tata guna lahan dan tata kelola hutan berkoordinasi dengan Kementerian Kehutanan, Perum Perhutani serta Pemprov jateng,”

Wahyu menambahkan, Kabupaten Grobogan juga dilintasi beberapa sungai besar yang dapat meningkatkan risiko terjadinya banjir saat intensitas hujan tinggi.

“Banjir juga bisa disebabkan adanya pendangkalan sungai, terkait penanganan sungai-sungai besar berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum,” pungkas Wahyu.

Isu peralihan hutan lindung menjadi perhutanan sosial makin mencuat dikalangan masyarakat, peralihan fungsi pengelolaan hutan tersebut dinilai memberikan menjadi salah satu pemicu terjadinya banjir di Kabupaten Grobogan.

Sementara, Pos penyuluh Cabang Dinas Kehutanan (CDK) wilayah 1 Grobogan dijalan Diponegoro nomor 22 Purwodadi, saat dikunjungi kabarterdepan.com pada Selasa (11/3/2025), kondisi kantor nampak sepi, pintu ruangan kantor terkunci rapat dan tidak ada petugas yang masuk kerja. (Masrikin)

Responsive Images

You cannot copy content of this page