Pemkot Mojokerto Perkuat Komitmen Penanganan Tuntas TBC dalam Rakor Lintas Sektor

Avatar of Lintang
WhatsApp Image 2025 06 13 at 8.51.13 AM
Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari dalam Rapat Koordinasi Lintas Sektor. (Kominfo Kota Mojokerto)

Kota Mojokerto, Kabarterdepan.com — Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto menunjukkan komitmen kuat dalam memberantas Tuberkulosis (TBC). Melalui pendekatan lintas sektor yang terintegrasi, upaya eliminasi TBC terus diperkuat.

Penegasan ini disampaikan Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari dalam Rapat Koordinasi Lintas Sektor yang berlangsung di Ruang Sabha Mandala Madya, Balai Kota Mojokerto, Kamis (12/6/2025).

Dalam arahannya, sosok yang akrab disapa Ning Ita ini menyoroti kekhawatiran atas tingginya kasus TBC di tingkat nasional. Indonesia saat ini menempati posisi kedua di dunia sebagai negara dengan kasus TBC terbanyak. Penguatan koordinasi lintas sektor diharapkan mampu menekan angka penyebaran TBC di Kota Mojokerto.

“Ini kondisi yang sangat menyedihkan. Maka penanganan TBC tidak bisa lagi hanya sebatas penemuan kasus. Kita harus fokus pada proses penyembuhan yang tuntas,” tegasnya.

Menurut data Dinas Kesehatan Kota Mojokerto, terdapat peningkatan jumlah kasus TBC dari 757 kasus pada tahun 2023 menjadi 869 kasus di tahun 2024. Hingga pertengahan 2025, sudah tercatat 322 kasus.

Meski demikian, Ning Ita menekankan bahwa tantangan terbesar bukanlah soal jumlah kasus yang ditemukan, tetapi memastikan bahwa setiap pasien TBC mendapatkan pengobatan hingga sembuh total.

“Penyakit TBC membutuhkan pengobatan selama enam bulan penuh tanpa henti. Tidak boleh ada yang putus di tengah jalan. Di sinilah peran penting tenaga kesehatan, kader motivator, hingga keluarga pasien dalam mendampingi proses pengobatan. Ini bukan tugas yang ringan, butuh pendekatan yang sabar dan persuasif,” ujarnya.

Pemkot Mojokerto juga terus menguatkan upaya edukatif dan promotif melalui dukungan kader motivator, prameswari, serta puskesmas yang aktif dalam posyandu dan kegiatan penyuluhan. Namun, Ning Ita menilai bahwa kesadaran masyarakat untuk mencegah dan menangani TBC masih perlu ditingkatkan secara signifikan.

“Kita butuh sinergi semua pihak hingga ke tingkat desa. Pemerintah pusat sudah memberikan target, dan tanggung jawab itu turun berjenjang sampai ke tingkat paling bawah. Jadi penanganan TBC bukan hanya tugas Dinas Kesehatan, tapi tugas kita bersama,” tegasnya.

Ia juga mendorong adanya sinkronisasi data antara pemerintah daerah dengan provinsi agar penanganan lebih terarah berdasarkan data riil di lapangan.

Wali Kota berharap penanganan TBC di Kota Mojokerto tidak hanya berorientasi pada capaian angka, tetapi benar-benar menghasilkan dampak nyata: masyarakat yang sembuh, sehat, dan sadar akan pentingnya pola hidup bersih dan sehat. (*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page