Pemkab Sleman Bakal Gelar Pasar Murah di 36 Kalurahan, Gelontorkan 115 Ton Bahan Pokok

Avatar of Redaksi

 

IMG 20250306 WA0003
Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa saat diwawancarai wartawan. (Hadid Husaini/kabarterdepan.com)

Sleman, Kabarterdepan.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman bakal menggelar Pasar Murah menghadapi Idul Fitri dengan menyediakan beberapa komoditas pangan sebanyak 115 ton.

Dari total bahan pangan yang disediakan tersebut akan terbagi 36 titik Kelurahan selama menjelang Idul Fitri.

Kegiatan tersebut akan dilaunching di GOR Bimoseno, Pandowoharjo, Pensawa Sakti, Pandowoharjo, Sleman, DIY pada Kamis (6/5/2025).

Pasar murah dilaksanakan melalui keputusan Bupati Sleman No.13 13.1./KepKDH/A/2025 tentang Petunjuk Pelaksanaan Operasi Pasar dan Pasar Murah pada tanggal 24 Februari.

Penertiban SK ini juga mendukung pemberian subsidi reduksi biaya distribusi pada kegiatan Pasar Murah menjelang Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan bukan Maret 2025.

Kepala Dinas Perdagangan, Raden Rara Mae Rusmi Suryaningsih menyampaikan bahwa setiap titik pasar murah tersebut telah disesuaikan dengan jumlah penduduk.

“Kuota Pasar murah 2025 kali ini untuk kita siapkan keseluruhan sebanyak 115 ton,” katanya saat High Level Meeting di Pemkab Sleman, Rabu (5/3/2025)

Ia menyampaikan terdapat 6 komoditas yang akan beras medium sebanyak 40,8 ton; beras premium 35 ton, minyak goreng sebanyak 18.100 liter, gula pasir sebanyak 10 ton, telur ayam ayam sebanyak 7,2 ton, kemudian daging ayam sebanyak 2,9 ton.

“Dimana pemilihan lokasi ini untuk mendekatkan kalau regrouping ini yang paling representatif jangkauan dengan masyarakat,” katanya.

Pemkab Sleman memastikan  juga terkait dengan kebutuhan tabung gas melon atau LPG 3 kg bisa aman untuk permintaan Bulan Ramadan.

Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa menyampaikan saat ini Yogyakarta tengah mengalami tren deflasi.

Hal tersebut menurutnya membuat barang-barang yang ada di pasar lebih banyak sedangkan beli masyarakat menurun.

“Ini tidak tahu apakah karena perekonomian atau karena gaya hidup,” katanya.

Terkait gaya hidup menyampaikan saat ini penggunaan kekayaan pejabat juga menjadi sorotan publik, terutama untuk membeli barang murah sehingga terjadi perubahan pola gaya hidup.

Danang yang tergabung dalam Tim Pemantau Inflasi Daerah (TPID) menyampaikan bahwa ketersediaan bahan pokok di Sleman masih aman, stabil, dan terjangkau.

“Mudah-mudahan bisa kita dipertahankan sebelum dan sampai perayaan hari besar. Karena biasanya setelah hari besar momen masyarakat meningkatkan kebutuhan,” katanya.

“Karena biasanya banyak berlibur di beberapa tempat sehingga gas di restoran kebutuhan bertambah bahan bakunya,” katanya.

Ia menyampaikan bahwa pasar murah di 36 titik dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dengan selisih harga yang lebih terjangkau agar bisa tepat sasaran kepada yang membutuhkan. (Hadid Husaini)

Responsive Images

You cannot copy content of this page