Pelaku Usaha Kafe di Sleman Sebut Pembatasan Lagu Beroyalti Hambat Karir Musisi

Avatar of Redaksi
IMG 20250803 WA0069
Jafe Ling Lung, Sleman, Minggu (3/8/2025). (Hadid Husaini for kabarterdepan.com)

Sleman, kabarterdepan.com– Pelaku usaha Kafe di Sleman sebut aturan pembatasan pemutaran musik harus beroyalti dapat menghambat kreativitas musisi berkembang.

Dengan pertunjukan live musik di kafe, disebutnya akan menambah jam terbang dalam berkreasi untuk lebih produktif dalam menciptakan lagu.

“Jadi kalau tampil di kafe-kafe malah jadi acuan berkarya sendiri jadi, setiap manggung jadi nggak harus bayar lagi ke orang lain (royalti),” kata Supervisor Ling Lung Kafe di Sleman, Aditya Nurcahyo saat diwawancarai kabarterdepan.com pada Minggu (3/8/2025).

Dengan seringnya musisi berkembang tampil di ruang publik dengan membawa lagu musisi yang sudah ada akibat aturan royalti disebutnya akan berdampak pada karir.

Semakin banyak tampil di ruang publik disebutnya bisa menjadi batu loncatan untuk tampil di panggung yang lebih besar.

Ia menyampaikan bahwa di tempatnya, para kelompok musisi sering tampil membawakan lagu untuk menghibur pengunjung setiap akhir pekan.

Pihaknya mengaku harus berpikir panjang untuk memutar musik di luar royalti. Termasuk memutar lagu barat.

Pasalnya beberapa waktu lalu, pengelolaan usaha makanan di bali tersandung kasus hukum usai melanggar aturan pemutaran musik berlisensi selama beberapa tahun. Hal tersebut menurutnya membuat lelaku usaha merasa cemas.

“Jadi kan ada peraturan seperti itu, intinya kita adain live musik juga mikir-mikir. Terutama kejadian yang ada di Bali itu itu kan penanggung jawabnya kena pidana,” katanya.

Ia menyampaikan aturan hukum tersebut justru merendahkan karya musik yang sejatinya diciptakan untuk bisa didengarkan.

“Tapi ya sebenarnya aturan kaya gini tu kurang masuk, istilahnya kaya musisi menciptakan lagu niatnya untuk didengar dibuat komersil jadi ada izin atau royalti,” katanya.

Pihaknya selaku supervisor mengaku masih tetap akan menunggu kepastian hukum atas royalti.

Ia juga menyampaikan bahwa musik tidak berdampak besar terhadap penurunan omset. Selama ini, kafe tersebut hanya menargetkan pangsa pasar mahasiswa.

“Ya itu kalau disini sudah diskusi lagi kan marketnya mahasiswa mahasiswa, kalau live musik kurang menunjang omset karena tempat luas bukan larena live musik,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pemasaran Wisata Dinas Pariwisata (Dispar) Sleman Kus Endarto menyampaikan bahwa pemutaran musik di ruang komersil haris beroyalti tidak berdampak kepada dunia pariwisata.

“Karena tujuan ke hotel pastinya menginap dan tujuan ke resto pastinya makan. Kalau hanya mendengarkan lagu, bisa dilakukan sendiri,” katanya. (Hadid Husaini)

Responsive Images

You cannot copy content of this page