
KotaMojokerto,KabarTerdepan.com-Pasar Ketidur Mojokerto ramai warga berburu takjil saat bulan puasa, Kamis (19/02/2026). Sejak sore hari, kawasan pasar di Kota Mojokerto itu dipadati masyarakat yang memanfaatkan waktu menunggu berbuka dengan berjalan santai sambil membeli makanan dan minuman.
Suasana pasar terlihat semarak dengan deretan lapak yang menjajakan aneka takjil. Mulai dari gorengan hangat, kolak manis, es buah segar, hingga aneka jajanan tradisional tersaji rapi di atas meja pedagang. Aroma makanan yang menggoda membuat pengunjung silih berganti mendatangi setiap lapak.
Baca juga: Maling Motor Terpojok di Sumberjo Jombang, Kendaraannya Hangus Jadi Abu
“Daripada menunggu waktu berbuka di rumah, lebih baik jalan-jalan santai di sini. Sekalian beli takjil untuk keluarga,” ujar Arif saat ngabuburit di Pasar Ketidur.
Arif mengaku suasana sore di pasar memberikan nuansa berbeda dibandingkan hanya menunggu waktu berbuka di rumah. Ia menilai kegiatan ngabuburit tidak hanya menjadi momen berburu takjil, tetapi juga ajang bersilaturahmi dan menikmati keramaian khas bulan Ramadan.
“Di puasa pertama saya ngabuburit di Pasar Semeru, di sini sangat ramai lalu banyak yang jual takjil, mulai dari gorengan sampai minuman segar. Harganya juga masih ramah di kantong,” ujar Diana saat menikmati suasana pasar.
Menurut Diana, keberagaman pilihan makanan menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Harga yang relatif terjangkau membuat pembeli tidak ragu membeli lebih dari satu jenis takjil untuk keluarga di rumah.
Keramaian Pasar Ketidur juga membawa berkah bagi para pedagang. Sejumlah penjual mengaku mengalami peningkatan omzet signifikan dibandingkan hari biasa. Mereka telah mempersiapkan stok lebih banyak sejak siang hari untuk mengantisipasi lonjakan pembeli di sore hari.
“Alhamdulillah ini hari pertama puasa tetapi hari ini yang beli begitu ramai,” ujar Amimah, penjual takjil di Pasar Ketidur.
Amimah menjelaskan bahwa ia menambah jumlah produksi sejak pagi karena memperkirakan tingginya minat warga. Berbagai menu seperti kolak pisang, bubur sumsum, dan es campur menjadi favorit pembeli pada hari pertama puasa.
Tidak hanya pedagang minuman manis, penjual gorengan juga merasakan dampak positif dari keramaian pasar. Antrean pembeli terlihat mengular di beberapa lapak, terutama menjelang azan magrib.
“Kalau hari biasa paling laku 200 sampai 250 gorengan. Sekarang bisa tembus 400 sampai 500 potong dalam sehari,” ujar Fais, penjual gorengan di Pasar Ketidur.
Fais menyebut peningkatan penjualan terjadi hampir dua kali lipat dibandingkan hari biasa. Ia bersama keluarga harus bekerja lebih cepat agar semua pesanan dapat terpenuhi sebelum waktu berbuka tiba.
Pasar Ketidur Jadi Pusat Aktivitas Warga Mojokerto
Fenomena ngabuburit di Pasar Ketidur menunjukkan bahwa pasar tradisional tetap menjadi pusat aktivitas warga saat Ramadan. Selain menjadi tempat transaksi ekonomi, pasar juga menjadi ruang sosial yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat.
Anak-anak terlihat berlarian kecil sambil menggenggam jajanan, sementara orang tua sibuk memilih menu berbuka. Interaksi antara penjual dan pembeli berlangsung hangat, mencerminkan semangat kebersamaan yang identik dengan bulan puasa.
Keramaian tersebut diperkirakan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan. Masyarakat menilai ngabuburit di pasar memberikan pengalaman tersendiri karena dapat menikmati suasana ramai, pilihan takjil beragam, serta harga yang masih bersahabat.
Pasar Ketidur Mojokerto pun kembali membuktikan perannya sebagai denyut nadi ekonomi sekaligus ruang kebersamaan warga Kota Mojokerto. Ramadan tidak hanya menghadirkan suasana religius, tetapi juga menggerakkan roda usaha kecil yang bergantung pada antusiasme masyarakat setiap sore hari. (Ezra)
Editor berita: Ririn W.
