
Mojokerto, Kabarterdepan.com – Suasana Perayaan Tahun Baru Imlek di Mojokerto tahun ini semakin hidup dengan hadirnya kegiatan On The Spot atau melukis bareng yang digelar oleh Komunitas Pelukis Pasar Seni Mojokerto Raya (PSM) pada Selasa, (28/1/2025).
Acara yang berlangsung selama satu hari ini tidak hanya menghadirkan kemeriahan Imlek, tetapi juga menjadi panggung bagi seni lokal untuk berkembang dan dipersembahkan kepada masyarakat luas.
Berbagai kegiatan seni yang menggabungkan tradisi Tionghoa dengan sentuhan modern dan budaya lokal menjadi sorotan utama dalam perayaan tersebut.
Anggota dari PSM yakni Suwarno Tembung menjelaskan bahwa komunitas ini mempunyai kantor sekretariat untuk seluruh anggota Komunitas Pelukis Pasar Seni Mojokerto berkumpul bersama di rest area Gunung Gedangan.
“Komunitasnya berdiri sejak tahun lalu 2024 kemarin, karena memang baru dapat fasilitas di rest area itu dari dinas juga pemerintah Diskopukm Perindag Kota Mojokerto,” ujarnya.

Keberadaan kantor sekretariat digunakan untuk berjalannya aktivitas anggota dari komunitas pelukis dan hanya dibatasi sesuai jumlah stand yang ada, yaitu 20 stand.
Sehingga secara tidak langsung PSM terhimpun dari jumlah anggota 20 pelukis di Mojokerto Raya baik yang berada di Kabupaten maupun Kota.
Jenis seni yang seringkali di buat pada saat On The Spot ragamnya banyak mulai dari aliran aliran realisme, karikatur, dekoratif, abstrak, serta tentang harga juga bervariatif.
Mulai dari harga yang terjangkau dalam pameran ini 100 Ribu sampai puluhan juta.
Sayangnya On The Spot semacam ini sempat vakum 2024 kemarin persiapan pameran akbar di Surabaya jadi ini adalah On The Spot PSM yang pertama kali mengawali tahun 2025 dan dalam rangka Perayaan Imlek.
“Tema perayaan Imlek yang penting suasana guyub rukun, silaturahmi, kita mengadakan kegiatan seperti ini saling rasa persaudaraan satu sama lain,” tambah Suwarno Tembung.
Ia juga menjelaskan mengenai strategi melukis dalam alirannya yang cenderung ke realis, dengan menampilkan sesuatu yang tidak jauh dari bulan tahun sebelumnya.
Tahun ini ada beberapa karya yang dibawa gambar kucing, anjing, barongsai, dan aliran realisme lainnya.
“Harapannya pemerintah bisa membantu dalam segi promosi Pasar Seni di Mojokerto kepada masyarakat luas. Baik dalam media cetak, elektronik supaya bahwa kalau tentang kesenian tidak harus jauh ke Bali, Bandung, cukup di Mojokerto sudah ada dan tidak kalah saing. Kalau ada yang dekat kenapa harus yang jauh, ” tambahnya.
Gambar barongsai yang ia lukis cenderung berbeda dari yang lain, biasanya berwarna merah namun dalam kesempatan ini mengambil tema orange dari campuran warna merah dan kuning, yang penting tetap mengambarkan kecerian.

Pengunjung yang datang tampak antusias melihat karya-karya tersebut, banyak yang berfoto dengan latar belakang instalasi seni yang mencuri perhatian, juga mengabadikan vidio proses menorehkan cat warna pada kanvas.
Melalui berbagai pertunjukan seni yang memadukan budaya lokal dan Tionghoa, Perayaan Imlek di Mojokerto tahun ini berhasil memberikan suasana yang meriah dan penuh makna.
Komunitas Seni Mojokerto sekali lagi menunjukkan bahwa seni adalah bahasa universal yang dapat mempererat hubungan antar masyarakat, membangun rasa saling menghargai, dan memperkaya kebudayaan bangsa. (Tantri*)
