Okupansi Hotel Selama World Water Forum ke-10 di Bali Meningkat

Avatar of Redaksi
Wisatawan mengamati patung Dewa Wisnu di GWK, Bali. (Redaksi/kabarterdepan.com)
Wisatawan mengamati patung Dewa Wisnu di GWK, Bali. (Redaksi/kabarterdepan.com)

Bali, kabarterdepan.com – Gelaran World Water Forum ke-10 di Nusa Dua, bAli mendapat dukungan penuh dari Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, 18-25 Mei 2024. Okupansi hotel selama gelaran tersebut meningkat.

World Water Forum sendiri merupakan sebuah forum internasional yang menghimpun para pemangku kepentingan di bidang air. Forum ini ada sejak 1997 untuk mengajak semua pihak berdiskusi, berbagi ilmu dan praktik nyata dalam pengelolaan dan pengembangan sumber daya air yang berkelanjutan.

Event yang dihadiri delegasi dari berbagai negara itu diyakini memberikan dampak besar terhadap geliat ekonomi , sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Bali.

Hal yang nyata adalah tingkat okupansi hotel di Bali yang meningkat, khususnya kawasan Nusa Dua.

Ketua PHRI Kabupaten Badung I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya menyatakan pihaknya menyiapkan layanan amenitas terbaik bagi para delegasi.

“Pelaksanaan event-event meetings, incentives, conferences, and exhibitions tourism (MICE) internasional akan memberikan dampak yang besar. Ini tentunya menjadi berkah bagi Bali,” ujar Rai dalam keterangannya, Sabtu (18/5/2024).

Event World Water Forum ke-10 Indonesia ini dihadiri oleh kepala negara atau kepala pemerintahan negara undangan dan organisasi internasional. Forum yang mengusung tema “Water for Shared Prosperity” itu akan dihadiri lebih dari 35 ribu peserta.

Rai menyebut, okupansi hotel-hotel di kawasan Nusa Dua tempat konferensi berlangsung menyentuh angka 100 persen.

Tidak hanya di kawasan Nusa Dua, tetapi juga berdampak pada hotel-hotel di luar kawasan, seperti Jimbaran, Kuta, Sanur, dan Ubud.

“Hal itu juga akan berdampak lebih luas ke pelaku usaha lainnya, seperti usaha restoran,” ujar Rai.

Sementara itu Ketua PHRI BPD Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati mengatakan, dipilihnya Bali sebagai tempat penyelenggaraan World Water Forum juga akan memberi dampak ke promosi Bali sebagai destinasi pariwisata favorit dunia.

“Untuk itu saya selaku Ketua PHRI BPD Bali, berharap agar penyelenggaraan acara-acara seperti halnya World Water Forum yang dilaksanakan di Bali. Kami yakin seluruh stakeholder pariwisata di Bali akan sangat mendukung,” ujar Tjokorda Oka.

Sebelumnya, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno sebelumnya mengatakan industri pariwisata dan ekonomi kreatif secara keseluruhan siap mendukung pelaksanaan World Water Forum ke-10.

“Para delegasi akan banyak yang menikmati keindahan dan kekayaan budaya Bali,” ujar Menparekraf Sandiaga.

Kemenparekraf berkolaborasi dengan Pemprov Bali dan juga industri lainnya sudah menyiapkan paket-paket wisata yang dapat dipilih para delegasi yang hadir untuk berwisata di Bali.

Seperti prosesi Melukat atau Balinese Water Purification Ceremony yang merupakan ritual adat khas Bali dengan konsep kegiatan Rahina Tumpek Uye dan Upacara Segara Kerthi.

Destinasi lainnya yang disiapkan adalah Desa Wisata Jatiluwih yang terkenal dengan sistem subak.

Keseluruhan pelaksanaan World Water Forum 2024 di Bali juga akan sepenuhnya lekat dengan nilai-nilai budaya Indonesia khususnya Bali. Seperti pada upacara pembukaan, gala dinner, acara penutupan, yang akan diisi dengan ragam suguhan budaya dan kuliner khas nusantara.

“Kita harapkan para peserta akan mendapatkan kenangan yang tidak terlupakan selama di Bali. Termasuk juga kegiatan-kegiatan seperti carbon footprint offsetting yang akan kita lakukan dengan penanaman mangrove, juga trip ke Jatiluwih yang banyak peminatnya,” ujar Sandiaga. (*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page