
Tapanuli Tengah, KabarTerdepan.com – Di tengah duka bencana banjir dan longsor yang melanda Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, pada akhir November 2025, muncul kisah mengharukan yang disebut sebagai mukjizat Tuhan.
Longsor dahsyat dari Bukit Laverna, yang menghancurkan rumah-rumah di sekitar dan menimbun segala yang dilaluinya, tiba-tiba berhenti tepat di tembok Biara OSF San Damiano, Pandan.
Bangunan biara yang menjadi tempat tinggal para suster serta anak-anak kurang mampu tetap berdiri utuh, sementara area di sekitarnya luluh lantak.
Kisah ini menjadi simbol penyertaan Tuhan bagi umat beriman. “Longsor bukit Laverna yang seharusnya meratakan biara OSF San Damiano dan seluruh penghuninya, namun ada tangan yang bekerja menahan longsor tersebut,” ujar aktivis dan pemerhati sosial Permadi Arya, yang turut menyampaikan cerita ini kepada publik.
Menurutnya, Tuhan melindungi biara tersebut agar para suster tetap bisa menjadi perpanjangan tangan-Nya untuk membantu korban di sekitar.
“Pertolongan-Nya tidak pernah terlambat,” tambah Permadi Arya, menekankan bahwa kejadian ini bukan sekadar penyelamatan fisik, melainkan tanda bahwa Tuhan terus bekerja di balik bencana, memungkinkan para biarawati melanjutkan pelayanan mereka.
Biara San Damiano Sumatr
Biara OSF San Damiano, yang terletak di kaki Bukit Laverna, selama ini dikenal sebagai tempat para suster memberikan makan gratis kepada anak-anak kurang beruntung. Pada saat longsor meluncur deras dari atas bukit, material tanah dan batu menyapu segalanya di jalurnya.
Namun, ajaibnya, aliran itu terhenti persis di depan gerbang dan tembok biara, meninggalkan bangunan suci serta penghuninya selamat tanpa luka.
Mgr Kornelius Sipayung OFM Cap, Uskup Agung Medan, yang mengunjungi lokasi pasca-bencana, turut menyaksikan kejadian ini. Beliau menyebut Bukit Laverna sebagai sumber berkat bagi para suster, karena menjadi penyedia air, namun kini menjadi saksi kuasa Tuhan yang melindungi rumah doa tersebut.
“Jika bukan tangan Tuhan, tangan siapa menurut kamu?” ujar Kornelius.
Kisah ini menggugah hati banyak orang, menjadi pengingat akan penyertaan ilahi di saat sulit. Di tengah ratusan korban jiwa dan ribuan warga mengungsi akibat bencana di wilayah Tapanuli Tengah dan sekitarnya, mukjizat di Biara San Damiano memberikan harapan dan penguatan iman bagi masyarakat.
Permadi Arya menambahkan bahwa cerita seperti ini mengajak semua untuk merefleksikan kebesaran Tuhan, terutama saat krisis melanda.
Para suster di biara tersebut kini terus melayani korban bencana di sekitar, menjadi bukti nyata bahwa perlindungan Tuhan memiliki tujuan lebih besar, untuk terus menebarkan kasih di tengah penderitaan. (Rio)
