Modus Penipuan Mengatasnamakan PT Taspen, Begini Cara Pelaku Bobol Rekening Pensiunan ASN Via WhatsApp

Avatar of Redaksi
steptodown.com304168
Ilustrasi pensiunan ASN yang dihubungi pelaku via WhatsApp dengan mengatasnamakan PT Taspen. (Shutterstock)

Jakarta, Kabarterdepan.com – Direktorat Siber Polda Metro Jaya berhasil mengungkap sindikat kejahatan siber dengan modus penipuan yang mengatasnamakan PT Taspen.

Para pelaku menargetkan korban yang mayoritas adalah pensiunan aparatur sipil negara (ASN). Salah satu korban diketahui mengalami kerugian hingga Rp304 juta setelah pelaku berhasil mengakses rekening perbankan miliknya tanpa izin.

Kronologi Penipuan

Kasubbid Penmas, AKBP Reonald Simanjuntak, menjelaskan kronologi kejahatan tersebut yang mana pelaku melakukan pendekatan melalui WhatsApp dengan mengaku sebagai petugas PT Taspen dan mengarahkan korban untuk mengisi data rekening lewat sebuah link yang dikirimkan.

“Pelapor selaku korban menerangkan bahwa korban dihubungi oleh terlapor melalui WhatsApp dengan nomor 0878218888 yang mengaku dari pihak TASPEN. Pelaku kemudian menginformasikan bahwa ada pembaruan data yang mengharuskan korban wajib mengisi data rekening di sebuah link yang dikirimkan oleh pelaku,” ujar AKBP Reonald dalam konferensi pers, Jumat (6/6/2025).

Selain itu, pelaku mengirimkan aplikasi APK palsu dan meminta korban untuk mengikuti semua arahan yang diberikan, mulai dari mengisi formulir fingerprint, foto, video selfie, hingga melakukan transfer uang materai sebesar Rp10 ribu.

“Jadi pelaku mengirimkan aplikasi APK kepada korban karena percaya korban mengikuti semua arahan pelaku untuk mengisi data sesuai formulir fingerprint, foto, video selfie serta diminta untuk mentransfer uang materai sebesar Rp10 ribu,” lanjutnya.

Setelah korban mengisi semua data tersebut, sejumlah transaksi mencurigakan mulai muncul dan menyebabkan kerugian besar.

“Setelah korban mengisi semua data yang diperintahkan oleh pelaku, korban mendapatkan notifikasi bahwa telah terjadi beberapa transaksi transfer pada rekening salah satu bank BUMN dan salah satu bank swasta milik korban dengan jumlah keseluruhan total kerugian sebesar Rp304 juta,” tambah AKBP Reonald.

Dalam pengungkapan kasus ini, polisi telah menangkap dua tersangka, yakni EC (28) seorang pelajar dan IP (35) seorang ibu rumah tangga. Sementara itu, DPO berinisial AN (29), diduga mahasiswa yang kini berada di Kamboja, masih diburu.

“Sudah dilakukan penangkapan untuk tersangka EC dilakukan penangkapan di Cipayung, Ciputat, Tangerang Selatan. Kemudian untuk IP itu dilakukan penangkapan di Kampung Jambo, Desa Jambo, Kecamatan Pagaden, Subang, Jawa Barat,” kata AKBP Reonald.

Wadiressiber Polda Metro Jaya, AKBP Alvian Yunus, menegaskan bahwa modus penipuan ini melibatkan jaringan internasional yang menggunakan teknik social engineering untuk menguasai data korban.

“Pelaku melakukan social engineering terhadap calon korban kemudian setelah berhasil menguasai korban, mereka melakukan manipulasi terhadap informasi dan menyarankan korban untuk melakukan pembelian materai,” jelas AKBP Alvian.

Modus Operandi

Kasubit Siber IV Polda Metro Jaya, Kompol Herman Eco Tampubolon, menguraikan peran dan modus operandi para pelaku di mana EC berperan sebagai admin yang melakukan registrasi akun WhatsApp.

“EC berperan sebagai admin yang melakukan registrasi akun WhatsApp dengan cara menerima OTP melalui SMS kemudian memberikan dan mengirimkan kepada pelaku utama yang berada di negara Kamboja. Tersangka juga yang mencari dan membeli kartu perdana serta melakukan registrasi nomor-nomor tersebut,” ungkap Kompol Herman.

Sementara itu, IP berperan sebagai bendahara yang mengatur pembayaran fee kepada para pekerja scam dan membantu proses penerjemahan.

“IP perannya menjadi admin yang bertugas sebagai bendahara yang melakukan penggajian atau pembayaran fee terhadap pekerja-pekerja yang melakukan scam dan juga kepada tersangka EC. IP ini juga bertindak sebagai penerjemah bagi pelaku utama yang berada di luar negeri,” tambahnya.

Menurut Kompol Herman, korban yang disasar sebagian besar adalah pensiunan PNS berusia 60 tahun ke atas sehingga rentan tertipu.

“Hampir keseluruhan data korban, kurang lebih 100 orang, adalah pensiunan pegawai negeri sipil yang umurnya sudah di atas 60 tahun sehingga sangat mudah bagi pelaku untuk memanipulasi atau menipu korban agar mengakses handphone atau informasi pribadi,” jelasnya.

Cara Pelaku Menghubungi Korban

Kompol Herman juga menjelaskan cara pelaku berinteraksi yaitu mengaku sebagai petugas dari PT Taspen untuk mendapatkan kepercayaan korban.

“Pelaku di awal akan menyapa korban dengan mengatakan, ‘Halo, selamat pagi/siang/sore, apakah benar saya terhubung dengan nama korban? Kami dari petugas PT Taspen Persero, ingin melakukan konfirmasi terkait data ibu/bapak yang ada di sistem kami agar pencairan tunjangan pensiun tidak bermasalah ke depannya,” bebernya.

“Pelaku menanyakan apakah nomor korban saat ini terhubung dengan WhatsApp dan jika benar, mereka mengirimkan data dalam bentuk file PDF yang berisi identitas korban sekaligus link untuk mengunduh aplikasi Taspen palsu,” terang Kompol Herman.

Selanjutnya, pelaku meminta korban untuk melakukan video call dan berbagi layar agar proses verifikasi data tampak resmi.

“Dalam aplikasi Whatsapp itu ada menu untuk berbagi layar dengan alasan untuk memudahkan proses verifikasi setelah video call tersebut pelaku akan mengarahkan kepada korban untuk mendownload aplikasi resmi dari Taspen setelah itu pelaku juga mengarahkan agar korban masuk ke dalam menu pengaturan di dalam handphone dan mengizinkan aplikasi Taspen tersebut untuk mengakses semua fitur yang ada di dalam handphone,” tambahnya.

Korban diminta membuat username dan password yang biasanya digunakan agar pelaku dapat mengakses semua fitur di handphone korban.

“Pelaku di dalam aplikasinya akan mengirimkan notifikasi dengan tulisan sekarang aktif setelah korban mengklik menu di dalam aplikasi tersebut maka pelaku sudah bisa mengakses semua fitur yang ada di dalam handphone milik, selanjutnya pelaku akan transfer semua rekening milik korban yang sudah mereka identifikasi,” pungkas Kompol Herman. (Riris*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page