
Surabaya, KabarTerdepan.com — Indriani Siswati, praktisi komunikasi korporat PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), menegaskan bahwa industri pertambangan yang dilakukan secara legal dan bertanggung jawab justru menjadi katalis kemajuan daerah terpencil sekaligus penopang peradaban modern.
“Hampir semua yang kita pegang setiap hari berasal dari hasil tambang: ponsel, mobil listrik, alat musik, hingga peralatan medis. Tanpa tambang yang dikelola dengan baik, kita kembali ke zaman batu,” ujar Indriani di hadapan ratusan mahasiswa dari UNESA, Widya Mandala, Unair, UPN Veteran Jatim, dan kampus lainnya.
Menurut Indriani, citra negatif pertambangan di Indonesia sering kali berasal dari aktivitas tambang ilegal yang jumlahnya mencapai ribuan.
“Dari sekitar 5.300 izin tambang di Indonesia, yang sering jadi sorotan justru praktik ilegal yang merusak lingkungan dan tidak membayar kewajiban kepada negara. Perusahaan legal seperti Merdeka justru menjadi korban imbasnya,” tegasnya.
PT Merdeka Copper Gold Tumbuh Signifikan
PT Merdeka Copper Gold, yang baru berusia 15 tahun namun telah mencatatkan pertumbuhan signifikan, mengelola beberapa proyek tambang kelas dunia: Tujuh Bukit (Banyuwangi), Wetar Copper, Pani Gold Project, hingga tambang nikel terbesar di dunia di Konawe Utara. Perusahaan ini juga baru saja melakukan IPO proyek Acid Iron Metal (AIM) di Morowali.
Indriani menekankan bahwa keberlanjutan operasi perusahaan tambang modern ditentukan oleh penerapan ESG (Environmental, Social, Governance) yang ketat.
“ESG rating kami naik dari B3 menjadi A dalam beberapa tahun. Ini bukan sekadar label, tapi syarat utama investor global. Jika ESG buruk, tidak ada yang mau menanamkan modal,” paparnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan konsep Social License to Operate (SLO) sebagai “izin sosial” dari masyarakat sekitar yang jauh lebih krusial daripada izin formal dari pemerintah. “Tanpa SLO, perusahaan bisa memiliki semua izin resmi tapi tetap tidak bisa beroperasi. Makanya kami harus mengenali stakeholder dari Gen Z hingga sesepuh adat, memahami kepentingan masing-masing, dan berkomunikasi dengan cara yang tepat.”
Beberapa program unggulan Merdeka yang disebutkan antara lain pembangunan infrastruktur jalan dan pelabuhan di daerah terpencil, pemberdayaan UMKM, klinik kesehatan gratis, hingga workshop mining bagi jurnalis dan mahasiswa agar memahami proses pertambangan yang benar.
“Kami tidak ingin masyarakat hanya jadi penonton saat sumber daya alam diambil dari tanah mereka. Mereka harus menjadi bagian dari kemajuan itu,” tegas Indriani.
Di akhir sesi, ia mengajak generasi muda untuk tidak alergi dengan industri pertambangan.
“Kami butuh talenta dari berbagai disiplin ilmu: komunikasi, biologi, teknik lingkungan, hukum, hingga keuangan. Kalau kalian ingin Indonesia berdaulat atas sumber dayanya, bergabunglah dengan perusahaan yang menjalankan tambang secara bertanggung jawab. Karena di sini, kami bukan hanya menambang mineral, tapi juga menambang masa depan Indonesia yang lebih baik,” ujar Indriani menutup presentasinya dengan penuh semangat, disambut tepuk tangan meriah dari para mahasiswa yang hadir.
