
Life Style, Kabarterdepan.com – Hujan sering kali membawa suasana yang berbeda dibandingkan cuaca cerah. Meskipun sebagian orang menikmati suasana hujan karena kesan romantis atau menenangkan, bagi sebagian lainnya hujan justru bisa memunculkan perasaan galau, malas, ngantuk, bahkan lapar yang datang secara tiba-tiba.
Fenomena ini sebenarnya dapat dijelaskan dari berbagai sudut pandang, baik itu dari segi psikologi, fisiologi, hingga pengaruh lingkungan sekitar kita.
Segi Psikologi
Pertama, hujan memiliki dampak psikologis yang cukup kuat terhadap suasana hati seseorang. Suara hujan yang turun perlahan dapat memicu perasaan melankolis atau nostalgia, mengingatkan kita pada kenangan-kenangan tertentu yang tidak selalu menyenangkan.
Banyak orang merasa lebih rentan secara emosional saat hujan turun, bahkan dalam beberapa kasus bisa menyebabkan perasaan galau atau cemas yang sulit dijelaskan. Perasaan ini terjadi karena hujan menciptakan suasana yang lebih introspektif dan mengisolasi, membuat kita lebih banyak berpikir tentang diri sendiri atau hubungan pribadi.
Selain itu, hujan juga memengaruhi tingkat energi dan mood kita. Saat hujan turun, suhu udara biasanya menurun dan kelembapan meningkat. Kondisi ini memicu tubuh untuk merasa lebih santai, yang bisa membuat kita lebih cenderung merasa malas atau tidak ingin bergerak. Ini adalah reaksi alami tubuh yang berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan.
Ditambah lagi, curah hujan yang seringkali diiringi dengan langit mendung dan kurangnya sinar matahari, bisa mengganggu produksi serotonin, neurotransmitter yang berperan dalam mengatur suasana hati.
Segi Fisiologi
Kurangnya sinar matahari yang menyinari tubuh kita juga menyebabkan penurunan produksi vitamin D yang penting, yang pada gilirannya dapat meningkatkan perasaan lesu atau tidak bersemangat.
Tak hanya itu, hujan juga bisa memengaruhi pola tidur kita. Suara hujan yang menenangkan sering kali dianggap sebagai suara putih yang dapat membantu menenangkan pikiran, membuat kita merasa lebih mengantuk, dan bahkan mudah tertidur.
Ketika hujan turun, kita cenderung merasa nyaman untuk berdiam di dalam ruangan, mungkin dengan selimut hangat atau secangkir minuman hangat, yang semuanya mendorong tubuh kita untuk lebih rileks dan beristirahat.
Dalam banyak kasus, kondisi ini juga memicu perasaan ingin tidur lebih lama atau tidur siang, membuat kita merasa lebih lesu dan mengantuk sepanjang hari.
Segi Lingkungan
Tak ketinggalan, rasa lapar yang muncul di saat hujan juga menjadi hal yang sering dialami banyak orang. Cuaca yang dingin dan lembap sering kali membuat kita mencari kenyamanan melalui makanan. Hormon-hormon yang memengaruhi nafsu makan, seperti ghrelin, bisa meningkat saat tubuh merasa kedinginan, sehingga kita cenderung merasa lebih lapar dari biasanya.
Apalagi, hujan seringkali dihubungkan dengan makanan hangat yang menggugah selera, seperti sup, mie, atau hidangan berat lainnya. Ini adalah cara tubuh kita beradaptasi dengan cuaca dingin, dengan meningkatkan konsumsi kalori sebagai sumber energi.
Secara keseluruhan, hujan membawa dampak yang kompleks bagi tubuh dan pikiran kita. Ia tidak hanya mempengaruhi suasana hati dan emosi, tetapi juga kondisi fisik kita, termasuk tingkat energi, kecenderungan untuk tidur, serta dorongan untuk makan lebih banyak.
Semua faktor ini berkontribusi pada perasaan galau, malas, ngantuk, dan lapar yang sering muncul di saat hujan turun. Meskipun terkadang kita merasa kurang produktif atau terpengaruh oleh cuaca, penting untuk menyadari bahwa ini adalah reaksi alami tubuh terhadap perubahan lingkungan, dan bukan sesuatu yang harus dikhawatirkan. (Tantri*)
