Menkes Budi Gunadi Sadikin Groundbreaking Gedung CMU RSUP Dr Sardjito, Targetkan Rampung 2029

Avatar of Jurnalis: Ahmad
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunawan Sadikin melakukan groundbreaking gedung Centr Medical Unit (CMU) RSUP Dr. Sardjito, Kamis (8/1/2026). (Hadid Husaini/kabarterdepan.com )
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin melakukan groundbreaking gedung Centr Medical Unit (CMU) RSUP Dr. Sardjito, Kamis (8/1/2026). (Hadid Husaini/kabarterdepan.com )

Yogyakarta, kabarterdepan.com – Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin melakukan groundbreaking pembangunan Gedung Central Medical Unit (CMU) di RSUP Dr. Sardjito, Kamis (8/7/2026).

Pembangunan ini menjadi bagian dari transformasi besar RSUP Dr. Sardjito menuju rumah sakit masa depan dengan layanan yang lebih modern, terintegrasi, dan berorientasi pada pasien.

Dihadapan Gubernur DIY Sri Sultan HB X, Budi menjelaskan penataan ulang RSUP Dr. Sardjito dilakukan dengan konsep efisiensi bangunan tanpa mengurangi kualitas layanan. Dari total 32 gedung yang ada, akan ditata ulang menjadi hanya sembilan gedung utama.

“Jadi kita ingin memastikan, kalau bisa janji saya dengan Ngarsa Dalem, dari 32 gedung kita tata ulang jadi sembilan gedung,” katanya saat diwawancarai.

“Tapi dengan pengurangan jumlah gedung bukan berarti mengurangi fasilitas, malah fasilitasnya naik dua sampai tiga kali lipat. Lahan hijaunya juga akan lebih bagus,” ujar Budi.

Awalnya, rencana transformasi RSUP Dr. Sardjito ditargetkan rampung hingga 2040. Namun, menurut Menkes, target tersebut dinilai terlalu lama.

“Tadi saya sampaikan rencana transformasi ini selesai sampai 2040. Ngomong sama Ngarsa Dalem, katanya ‘waduh lama amat’,” ungkapnya.

Karenanya, Kemenkes berupaya melakukan percepatan agar sebagian besar pembangunan dapat selesai lebih awal.

Target Menkes

Menkes menargetkan pada 2029, sebelum masa jabatan pertama Presiden Prabowo Subianto berakhir, kompleks RSUP Dr. Sardjito yang baru sudah dapat diresmikan.

“Kita akan usahakan di 2029, Bapak Presiden Prabowo bisa meresmikan rumah sakit Sardjito yang sudah relatif lengkap. Tapi memang perlu percepatan, dan tadi sudah dibicarakan dengan Ngarsa Dalem, juga dibutuhkan dukungan dari Ibu Dirut,” katanya.

Menkes menegaskan, pembangunan fisik harus sejalan dengan peningkatan kualitas layanan. Fokus utama transformasi ini bukan hanya menyembuhkan penyakit, tetapi juga merawat kehidupan masyarakat, khususnya warga Yogyakarta yang memiliki populasi lansia cukup besar.

“Saya titip ke Ibu Dirut, yang penting layanannya fokus ke pasien. Bukan hanya menyembuhkan penyakit, tapi juga merawat kehidupan masyarakat Yogyakarta.

“Harapannya, kalau masyarakat sakit, terutama lansia, enggak usah keluar, cukup dirawat di sini dan bisa sembuh,” tegasnya.

Selain RSUP Dr. Sardjito, Kementerian Kesehatan juga tengah membangun dan memodernisasi sekitar 40 rumah sakit di berbagai daerah.

Beberapa di antaranya adalah pembangunan gedung ibu dan anak di RS Kanker Dharmais, RS Persahabatan, RS Hasan Sadikin, dan RSUP Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah.

Pembangunan layanan kanker juga dilakukan di RSUP Mohammad Hoesin Palembang dan RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten.

“Kita juga bangun dua rumah sakit besar di Surabaya dan Makassar, rumah sakit di wilayah timur seperti Ambon, Kupang, dan Jayapura yang baru selesai. Rumah sakit IKN juga kita bangun, dan sekarang sedang berjalan pembangunan di Riau,” jelas Menkes.

Mulai tahun depan, Kemenkes akan memasuki ronde kedua pendanaan untuk melanjutkan pembangunan gedung-gedung baru, termasuk di RSUP Dr. Sardjito, agar percepatan target 2029 dapat tercapai.

Transformasi rumah sakit ini juga diharapkan dapat menekan angka masyarakat Indonesia yang berobat ke luar negeri. Menurut Menkes, selain fasilitas dan harga, faktor sumber daya manusia menjadi tantangan utama.

“Tantangan berikutnya adalah tenaga medis. Saya titip ke Ibu Dirut, selain meningkatkan sarana prasarana, juga tingkatkan dokternya. Bukan hanya jumlah dan keterampilan medis, tapi juga kemampuan nonmedis,” katanya.

Ia menekankan pentingnya dokter yang memiliki komunikasi dan empati yang baik kepada pasien.
“Masyarakat butuh dokter yang komunikasinya baik, empatinya baik, sehingga pasien merasa ‘diwongke’,” katanya. (Hadid Husaini)

Responsive Images

You cannot copy content of this page