
Kota Mojokerto, Kabarterdepan.com — Aksin Hendra Malmuyo (53) seorang pembudidaya maggot di Kota Mojokerto mampu membuktikan bahwa budidaya maggot dengan modal sampah bisa menjadi rupiah.
Maggot tidak hanya efektif dalam mengatasi sampah basah yang kerap menjadi masalah bagi pemerintah, tetapi juga menjadi sumber cuan yang menjanjikan.
Sebab selain bisa menjual telor maggot, juga hasil panen Maggot bisa menjadi pkana pakan ikan.
Budidaya ini telah dijalankan Akson selama dua tahun di dalam rumahnya, Jl. Pendidikan RT 03/RW 02, Kecamatan Pulorejo, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. Kini, usahanya berkembang dengan enam tempat biopond maggot serta satu tempat penetasan telur maggot. Ia juga memiliki sejumlah kolam ikan yang pakannya dari Maggot.
“Keutamaan dari budidaya maggot ini adalah sebagai bahan pakan utama bagi ikan yang saya budidayakan, sehingga saya tidak perlu bergantung pada pakan ikan komersial yang harganya semakin mahal,” ujar Aksin di lokasi budidayanya, beberapa waktu yang lalu.
“Selain itu, maggot yang saya budidayakan ini bisa digunakan untuk mengelola sampah basah organik dengan cepat, sehingga membantu mengurangi limbah rumah tangga yang menumpuk,” tambahnya.

Meski begitu, Aksin pernah menghadapi kesulitan saat kelebihan produksi telur maggot, hingga harus memanen dan memantau setiap dua hari sekali agar tidak menetas dengan sendirinya. Saat permintaan tinggi, ia mampu menjual hingga 15 gram telur setiap harinya.
“Ketika kelebihan telur, saya jual Rp 2.500 hingga Rp3.000 per gram. Satu gram mungkin sekitar 10.000 telur magot,” jelasnya.
Selain itu, hambatan utama dalam budidaya maggot adalah kebutuhan pakan yang mencapai 10-15 kilogram per hari.
“Kadang saya dapat bantuan dari warga sebelah, sekitar tujuh kilogram sampah basah per hari. Sisanya, saya cari sendiri, seperti buah jatuh atau sisa makanan,” jelasnya.
Dari hasil budidaya maggot untuk pakan ikan, Aksin pun mendapatkan penghasilan dari budidaya ikan yang dijual. Dalam tiga bulan, ia dapat memanen lele dengan harga Rp 18.000 per kilogram. Patin yang dipanen setiap enam bulan dihargai Rp19.000 per kilogram.
Sementara ikan nila yang dipanen dalam waktu enam hingga tujuh bulan dihargai Rp15.000 -Rp20.000 per kilogram. Untuk ikan gurami dan rengkik membutuhkan waktu panen satu tahun, harga jual masing-masing mencapai Rp 35.000 dan Rp 50.000 per kilogram.
Budidaya maggot yang dilakukan Aksin menjadi bukti bahwa inovasi sederhana dapat memberikan manfaat besar, baik dari segi ekonomi maupun lingkungan.
“Selama kita mau berusaha, ada banyak solusi dari alam yang bisa kita manfaatkan,” pungkasnya. (Steven)
