Mengapa Gen Z Sulit Lepas dari FOMO?

Avatar of Redaksi
steptodown.com678895 1
Ilustrasi FOMO. (iStock)

Life Style, Kabarterdepan.com – Di zaman serba canggih, muncul satu fenomena sosial yang melekat erat pada Generasi Z (Gen Z) yakni FOMO (Fear of Missing Out). Rasa takut tertinggal dari momen, tren, atau pengalaman yang dirasakan orang lain ini membentuk gaya hidup baru yang penuh warna, namun sekaligus penuh tekanan.

Apa Itu FOMO?

FOMO pertama kali diperkenalkan sebagai istilah psikologi sosial pada awal 2000-an, tetapi meledak bersamaan dengan masifnya penggunaan media sosial. Sederhananya, FOMO adalah rasa cemas, takut, atau gelisah ketika seseorang merasa ada hal menarik terjadi di luar sana yang tidak mereka ikuti.

Bagi Gen Z, generasi yang tumbuh bersama smartphone, Instagram, TikTok, dan YouTube, FOMO adalah bagian dari realitas sehari-hari. Mereka tidak hanya melihat tren terjadi tapi mereka merasakan kebutuhan untuk ikut serta dan terlibat secara aktif, demi menghindari rasa “tertinggal”.

Contoh Kasus FOMO

Ambil contoh sebuah kasus, seorang mahasiswi di Jakarta sebut saja Maudy (21). Ia mengaku rela menghabiskan setengah dari tabungannya untuk membeli tiket konser besar meskipun sebenarnya sedang menghemat untuk biaya kuliah.

“Semua teman bakal nonton, aku takut banget merasa sendirian kalau nggak ikut. Nanti aku ngerasa left out saat semua orang cerita soal konser itu,” ujar Maudy.

Hasilnya? Ia memang mendapatkan pengalaman seru satu malam, tetapi setelahnya harus berhemat ketat selama berbulan-bulan, menahan lapar demi menyelamatkan keuangan pribadinya.

“Kadang aku mikir, worth it nggak, ya? Tapi kalau nggak ikut, mungkin aku malah lebih stres,” tambahnya.

Kisah Maudy bukan kasus tunggal. Banyak Gen Z mengambil keputusan impulsif dari beli gadget terbaru, ikut event viral, sampai traveling dadakan, semua demi menghindari perasaan ‘missing out’, tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang.

Faktor Penyebab FOMO pada Gen Z
  1. Media Sosial yang Membandingkan Hidup: Setiap scroll membuka parade pencapaian, kebahagiaan, dan gaya hidup orang lain.
  1. Budaya Virality: Segala sesuatu berlangsung cepat. Tren hari ini bisa basi esok hari.
  2. Validasi Eksternal: Likes, komentar, dan pengakuan sosial menjadi tolak ukur harga diri.
  3. Tekanan Komunitas: Lingkaran pertemanan yang aktif membuat seseorang merasa harus selalu “ikut” agar tetap relevan.
Dampak Gaya Hidup FOMO

Dampak Positif:

  1. Memacu kreativitas untuk tetap inovatif dan mengikuti perkembangan.
  2. Membuka peluang pengalaman baru yang memperkaya diri.
  3. Membentuk jaringan sosial yang luas.

Dampak Negatif:

  1. Kelelahan mental karena terus-menerus mengejar sesuatu yang baru tanpa henti.
  2. Depresi dan kecemasan karena merasa hidup sendiri tidak pernah cukup memuaskan.
  3. Keputusan finansial buruk akibat membelanjakan uang untuk hal-hal yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
  4. Ketidakpuasan diri akibat selalu merasa ada yang kurang, bahkan saat sudah mencapai banyak hal.
Cara Sehat Menghadapi FOMO
  1. Kurangi konsumsi media sosial. Cobalah detox digital seminggu sekali untuk menyegarkan pikiran.
  2. Tetapkan prioritas hidup. Tidak semua tren harus diikuti. Pilih yang benar-benar sejalan dengan nilai diri sendiri.
  3. Praktik mindfulness. Fokus pada momen saat ini dan nikmati apa yang ada.
  4. Sadari ilusi media sosial. Ingat, yang ditampilkan online hanya potongan terbaik hidup orang lain.
  5. Bangun kepercayaan diri. Validasi diri sendiri tanpa bergantung pada pengakuan luar.

Gaya hidup FOMO pada Gen Z adalah cerminan dari zaman yang serba cepat, terhubung, dan penuh ekspektasi sosial. Namun, penting untuk diingat bahwa hidup bukan perlombaan siapa yang paling “update” atau paling “seru”.

Seperti kata pepatah modern “Sometimes, the best moments are the ones you don’t post”, menjadi bahagia bukan tentang mengikuti semua hal, melainkan memilih apa yang benar-benar berarti untuk diri sendiri. (Riris*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page