Mengais Rezeki di Tengah Tradisi Ramadan, Penjual Bunga di Yogyakarta Alami Penurunan Pembeli

Avatar of Redaksi

 

IMG 20250302 WA0047
Susi Susanti, Penjual bunga di Kemantren Worobrajan, Kota Yogyakarta, DIY saat melayani pembeli pada Sabtu (1/3/2025). (Foto: Hadid Husaini/kabarterdepan.com)

Yogyakarta, Kabarterdepan.com – Sadran atau ruwah menjadi sebuah tradisi yang dijalankan oleh sebagian masyarakat tradisional Jawa khususnya di Yogyakarta.

Berbagai kebutuhan disiapkan, seperti bunga-bunga sebagai prasyarat untuk mendoakan para leluhur yang sudah berpulang.

Kebutuhan tersebut seharusnya menjadi keuntungan tersendiri bagi para penjual bunga, terutama menjelang bulan puasa.

Namun, tahun ini penurunan penjualan bunga untuk kebutuhan tradisi menyambut bulan puasa dialami oleh sebagian pedagang

Hal itulah yang dirasakan oleh Susi Susanti, salah satu penjual bunga di Wirobrajan, Kota Yogyakarta. Ia menjual berbagai jenis bunga untuk berbagai kebutuhan seperti bunga setaman, bunga telon, bunga 7 rupa, bunga liman, bunga sekar wangi, kembang son, hingga lilin minyak dan dupa.

Berbeda dari tahun lalu, penurunan penjualan bunga disebutnya cukup drastis.

Jika keuntungan yang didapatkan pada tahun lalu bisa menghidupi kebutuhan, menurunya penjualan tahun ini disebutnya membuat dirinya mengalami kesulitan, terutama untuk membiayai sekolah anak.

“Tahun ini memang beda dengan tahun lalu lebih ramai tahun lalu kini mengalami penurunan dalam segala hal. Kalau kita dalam target rupiah tidak bisa diprediksi,” katanya saat diwawancarai kabarterdepan.com pada Sabtu (1/3/2025).

Bahkan nominal penjualan yang ia dapatkan untuk kebutuhan lainya harus ia sisihkan untuk mencukupi stok dagangannya untuk menghadapi ragam kebutuhan masyarakat yang membutuhkan.

“Tahun ini agak beda benar dari segi ekonomi penurunan drastis, 60 pesen,” katanya.

“Dampaknya memang sangat terasa ya. Dari awal udah merasa kalau tidak seperti tahun kemarin, suasana udah beda ibu (Susi) prediksinya memang sudah berbeda,” imbuhnya.

Dirinya tidak melihat bahwa penurunan yang terjadi bukan karena kondisi ekonomi masyarakat, mengingat kebutuhan tradisi masyarakat juga masih sangat dijaga. Dirinya menilai asa faktor eksternal yang tidak bisa ia ungkapkan.

“Ada faktor lain, kalau saya istilahnya mengais rejeki, siapapun beli kita layani. Kita kerjakan menurut apa yang mereka bilang. Pembeli bilang pesanan mereka kita siapkan, kalau mampu ya kita siapkan kalau gak mampu kan kita kembalikan,” katanya.

Selain itu tradisi ruwahan atau Nyadran disebutnya untuk di Kota Yogyakarta tidak dilakukan semua masyarakat. Ia menyebut tradisi ini biasanya hanya dilakukan di kampung-kampung. Berbeda dengan wilayah Kabupaten lainya seperti Bantul, Sleman, Gunung Kidul dan Kulonprogo yang hampir seluruh masyarakatnya masih lekat dengan tradisi dan budaya tersebut.

Menjalani profesi sebagai penjual bunga sejak ia kecil disebutnya membutuhkan ketelatenan. Terutama dalam menjalin ikatan yang kuat dengan ekosistem yang ada. Baik dengan tengkulak, sesama pedagang, hingga para pembeli.

Setiap daerah disebutnya memiliki waktu yang berbeda. Jika di Yogyakarta sebagian besar nyadran atau ruwahan dilakukan menjelang bulan puasa, di beberapa daerah seperti di Purworejo, Jawa Tengah baru memulainya saat memasuki puasa.

Tidak jarang permintaan bunga datang dari daerah lainnya yang baru memulai tradisi tersebut. Karena saking banyaknya pesanan dari wilayah lain yang baru memulai, dirinya dan para penjual lainya menyesuaikan dengan ketersediaan hingga menjualnya dengan harga yang lebih tinggi dari harga pada hari-hari biasa.

Susi menyampaikan, tradisi nyadran baginya merupakan bentuk penghormatan kepada mereka yang sudah meninggal. Oleh karena itu, ia berhati-hati dalam menyebut leluhurnya tersebut.

Pasalanya beberapa penjual menggunakan istilah roh halus sebagai ladang bisnis dan mengaitkannya dengan hal mistis yang disebutnya tidak tepat.

“Saya nggak ada pengaruhnya ke arah sana, dari orang tua saya sudah diperingatkan agar tidak menggunakan istilah itu (roh halus dan sebagainya),” katanya.

“Seperti mistis tapi didengar oleh priyayi (orang-orang) Keraton (Yogyakarta) yang bahasanya halus kental, mereka tidak mau mendengar istilah roh halus, itu kasar,” katanya.

Ia menyampaikan, meskipun mereka yang telah dikubur bukan hanya diartikan mati begitu saja. Susi meyakini jika leluhur atau orang-orang terdahulu masih berada di sekelilingnya.

“Mereka ada dengar apa yang mereka katakan. Mereka ada di sekeliling kita istilahnya ngobrol, jangan menyinggung hal lain,” pungkasnya. (Hadid Husaini)

Responsive Images

You cannot copy content of this page