Menengok Tradisi Nyadran, Warisan Budaya Leluhur di Punden Pucanganom Sragen

Avatar of Redaksi
IMG 20250704 WA0016
Ribuan warga melakukan prosesi budaya Nyadran di Punden Pucanganom Desa Gemantar, Kecamatan Mondokan, Kabupaten Sragen (masrikin/kabarterdepan.com)

Sragen, kabarterdepan.com – Tradisi Nyadran merupakan salah satu budaya luhur masyarakat jawa yang dilaksanakan sebagai penghormatan kepada para leluhur atau pendiri cikal bakal suatu desa yang telah wafat.

Seiring berjalannya waktu, kegiatan ini berkembang menjadi tradisi rutin yang sarat nilai spiritual dan sosial. Seperti yang dilakukan oleh ribuan warga Dusun Guli dan Gajihan, Desa Gemantar, Kecamatan Mondokan, Kabupaten Sragen, Jumat (4/7/2025) pagi.

Ribuan warga dua dusun berbondong-bondong memadati lokasi Punden Pucanganom untuk mengikuti prosesi Nyadran, sebuah tradisi yang telah dilakukan secara turun-temurun oleh warga masyarakat setempat.

Tradisi Nyadran di makam Pangeran Ranu Kusumo dan Pangeran Brojo Kusumo rutin dilaksanakan setiap hari Jumat Pahing tiap tahun setelah musim panen raya.

Ritual ini diawali dengan membersihkan makam, berdoa untuk arwah para leluhur, dan tabur bunga. Setelah dilakukan doa bersama kemudian warga saling berbagi makanan yang telah mereka bawa dari rumah masing-masing.

Menariknya, menjelang pelaksanaan Nyadran, para ibu rumah tangga mempersiapkan menu khas berupa Ingkung ayam kampung panggang, lengkap dengan aneka makanan pelengkap lainnya.

Hidangan tersebut dikemas layaknya menu dalam hajatan menggunakan daun jati. Proses ini juga menjadi bagian penting dalam prosesi Nyadran.

“Menu ingkung ayam panggang adalah makanan khas dalam Nyadran di Punden Pucanganom. Nyadran ini dilaksanakan setiap Jumat Pahing pagi, satu kali dalam setahun. Tahun ini bertepatan dengan bulan Muharam atau bulan Suro,” ujar Suyitno, tokoh masyarakat setempat.

Ia menambahkan bahwa Nyadran bukan hanya bentuk pelestarian budaya, tetapi juga ajang mempererat silaturahmi antar warga desa.

“Nyadran di sini adalah tradisi penghormatan kepada leluhur, sekaligus untuk memperkuat tali silaturahmi di antarwarga,” imbuhnya.

Asal Usul Punden Pucanganom

Menurut para sesepuh setempat, Punden Pucanganom mulai dikenal sejak dipugar oleh Mbah Sudarto, Kepala Desa pertama atau Lurah Sepuh, pada tahun 1977.

Berdasarkan cerita turun-temurun, di tempat tersebut diyakini sebagai tempat pertapaan dua tokoh pada zaman kerajaan, Keduanya bernazar akan mengadakan pesta dengan pertunjukan wayang kulit apabila doa mereka dikabulkan.

Saat keinginan mereka terkabul, digelarlah pertunjukan wayang kulit dengan alas (tatakan) dari pohon pucang (pinang) muda, menggantikan pohon pisang pisang. Sejak saat itu, lokasi tersebut dinamakan Pucanganom.

Kini, tempat itu dikenal sebagai Punden Pucanganom, ditandai dengan dua makam berdampingan yang diyakini sebagai tempat muksa (hilangnya raga secara spiritual) kedua Pangeran tersebut.

Konon, keduanya memiliki garis keturunan dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, di mana Pangeran Brojo Kusumo adalah keponakan dari Pangeran Ranu Kusumo.

Nilai Spiritual 

Disisi lain, Mbah Sudarto (92) tokoh sesepuh setempat menuturkan bahwa Punden Pucanganom memiliki daya magis yang kuat dan memancarkan aura positif bagi masyarakat sekitar. Menurutnya, hal ini terjadi karena masyarakat setempat selalu menjaga, merawat, dan menghormati tempat tersebut.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa tempat ini tidak boleh dirusak. Sebab, pernah terjadi kejadian di masa lalu ketika seseorang mencoba merusak fasilitas Punden dan akhirnya mengalami gangguan jiwa.

“Kalau ada yang tidak suka, ya jangan dirusak. Karena ini adalah warisan leluhur dan menjadi pusat kebudayaan masyarakat,” pungkasnya.

Tradisi Nyadran di Punden Pucanganom bukan sekadar ritual, melainkan warisan budaya yang sarat nilai spiritual, historis, dan sosial. Lewat Nyadran, masyarakat tidak hanya menjaga hubungan dengan leluhur, tetapi juga mempererat persaudaraan antarsesama. (Masrikin)

Responsive Images

You cannot copy content of this page