
Sleman, kabarterdepan.com — Pertumbuhan pelaku UMKM yang beralih dari cara jual konvensional ke platform e-commerce (online) terus berkembang.
Kondisi tersebut disampaikan oleh Menteri Perdagangan, Budi Santoso dalam forum Generale Young Entrepreneurs Leadership di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada (UGM), Jumat (24/5/2025).
Budi menyampaikan, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), 37,7 persen UMKM di Indonesia telah berganti ke platform e-commerce. Sedangkan sisanya masih menggunakan metode jualan melalui outlet.
“Jadi sudah (kisaran) 33 persen meninggalkan belanja offline, itu perkembangan yang dilakukan,” ujarnya.
Menurut Budi, saat ini pasar rakyat atau pasar tradisional tidak lagi menjadi pilihan utama yang dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Oleh karena itu para pelaku UMKM maupun yang ada di pedagang pasar dimintanya untuk bisa mengembangkan cara berjualan dengan cara yang lebih modern agar bisa bertahan.
Dirinya berharap kepada para mahasiswa maupun pemerintah daerah untuk mendorong kemajuan dalam usaha.
“Orang saat ini cenderung meninggalkan pasar offline, jadi kita akan mengajari tata laksana pasar rakyat supaya bisa melayani belanja online,” katanya.
“Kalau di Jakarta, belanja sepi tapi transaksi ramai, karena banyak jualan yang pakai ojek online (Ojol), tren nya sudah seperti itu,” katanya.
Kementerian Perdagangan disebutnya memiliki program bagi UMKM untuk bisa lebih baju dengan masuk ke wilayah ekspor.
Pihaknya telah membentuk lembaga promosi internasional melalui Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Trade. Budi menyampaikan bahwa saat ini organisasi tersebut telah berada di 33 negara.
Lembaga tersebut berupaya untuk melakukan business matching dengan mempromosikan produk-produk UMKM di luar negeri untuk ditawarkan kepada buyer.
“Katakanlah ada 5 (UMKM) yang siap kemudian sudah ada targetnya. Misalnya ekspor ke Jepang, nanti tinggal kami jadwalkan tanggalnya dijabarkan perwakilan kita yang ada di sana,”katanya.
Pihaknya menyampaikan akan memfasilitasi para pelaku UMKM yang ingin melakukan business matching.
Sejak Januari hingga April 2025, Ia menyebut business matching sudah menghasilkan transaksi mencapai Rp57,61 miliar untuk UMKM yang selama ini disebutnya belum pernah melakukan ekspor. (Hadid Husaini)
