Melalui “Si Paijo”, Cara SD ICP Al Falah Darussalam 2, Sidoarjo Kenalkan Siswa tentang Numerasi

Avatar of Jurnalis: Setyawan
1732857890594
Keseruan sejumlah siswa kelas 4-3, SD ICP Al Falah Darussalam 2, Sidoarjo, praktik media pembelajaran Si Paijo. (Eko Setyawan/Kabarterdepan.com)

Sidoarjo, Kabarterdepan.com – Dadu super jumbo menggelinding di atas meja sejumlah siswa kelas 4-3, SD International Class Program (ICP) Al Falah Darussalam 2, Tropodo, Sidoarjo, Kamis pagi, (28/11/2024).

Para siswa terlihat antusias mengamati hasil akhir dadu berhenti menggelinding. Mereka juga nampak saling bekerjasama dalam bermain “Si Paijo” itu. Seru.

Diketahui, Si Paijo adalah akronim dari SInau ParIkan JOwo. Diusung salah seorang guru sekolah beralamat di Desa Tropodo, Kecamatan Waru, Sidoarjo, yaitu Imawati. Si Paijo digaungkan oleh Imawati sebagai pengampu pelajaran bahasa daerah, bahasa Jawa.

Harapannya, agar pembelajaran tentang bahasa Jawa tetap menarik, tak kalah dengan pembelajaran yang lain.

Suasana pembelajaran bahasa daerah itu menjadi hidup berkat media pembelajaran tersebut. “Kami ingin siswa semakin aktif dan mudah memahami pelajaran muatan lokal itu (Bahasa Jawa,Red),” kata Mima, sapaan akrab Imawati, Jumat (29/11/2024).

“Sehingga, siswa kami yang mayoritas kalangan anak perkotaan, mudah memahami berkat Si Paijo ini,” sambungnya.

Ada berbagai materi pembelajaran dalam permainan tersebut. Salah satunya, membuat parikan jawa. Juga materi pembelajaran numerasi di dalamnya, dari proses perkalian dua kali hasil akhir angka dadu yang dilemparkan siswa.

Tak sampai disitu, setelah siswa mendapatkan hasil perkalian, harus disesuaikan dengan rentang interval tema parikan. Misalnya, angka yang muncul dari lemparan pertama adalah 6, dikali angka yang muncul lemparan kedua, 2, hasilnya adalah 12.

Maka, interval rentang 10-20 adalah tema kesehatan, sehingga kelompok siswa yang mendapatkan angka itu membuat parikan tentang kesehatan.

“Setelah terkumpul banyak parikan, kami membuatkan mereka sebuah e-book, agar ada jejak digital dan memudahkan untuk membacanya kemudian hari,” terang Mima.

Ia berharap, dapat terus mengembangkan inovasi pembelajaran khususnya tentang integrasi numerasi ke semua mata pelajaran. “Agar, peserta didik mudah memahami materi pembelajaran, sekaligus terbiasa dengan numerisasi,” tandas alumus award Microcredential Numerasi (2023) Monash University Australia itu. (*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page