
Buleleng, kabarterdepan.com- Kemeriahan Hari Suci Galungan yang dirayakan umat Hindu setiap 210 hari sekali, Rabu (23/4/2025) hari ini, tidak lepas dari simbol-simbol unik dan penuh makna.
Salah satunya adalah penjor, sebuah bambu yang dihias janur dan hasil bumi, yang ternyata menyimpan filosofi mendalam.
Jro Kadek Satria, Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng, menjelaskan bahwa Penjor dalam perayaan Galungan bukanlah sekadar hiasan.
Menurut Himpunan Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu, Penjor merupakan simbol dari Gunung Agung, tempat bersemayamnya Bhatara Giri Putri.
“Segala kemeriahan ini sebagai simbol bagaimana ritual yang dilakukan umat kita untuk melakukan pemujaan besar (piodalan jagat) menuju pada kemakmuran,” ungkap Jro Satria, Selasa (22/4/2025).
Ia menambahkan bahwa keberadaan gunung diyakini sebagai sumber kemakmuran.
Makna Penjor di Hari Raya Galungan
Lebih lanjut, Jro Satria memaparkan bahwa esensi pembuatan penjor untuk hari raya Galungan hendaknya mengikuti tafsir tersebut, dengan menggunakan hasil bumi dari tegalan dan kebun sebagai simbol persembahan dan kemakmuran.
“Apapun yang dihasilkan di kebun, itulah yang kita persembahkan dalam rangkaian penjor. Ini akan memberikan nilai baik dan kepuasan tersendiri,” tegasnya.
Jro Satria juga menyoroti adanya dua jenis penjor yang dikenal saat ini: Penjor Upakara yang digunakan dalam setiap upacara dengan berbagai sarana wajib, dan Penjor Dekorasi yang dibuat untuk menambah keindahan visual.
Ia mengingatkan pentingnya mengurangi penggunaan bahan plastik dalam pembuatan Penjor Dekorasi, sejalan dengan peraturan daerah terkait pengurangan sampah plastik.
Secara filosofis, Penjor juga melambangkan Naga Basuki, simbol kemakmuran. Bambu menjadi badan naga (simbol Dewa Brahma), janur muda sebagai kulit naga, dedaunan sebagai rambut naga (simbol Dewa Sangkara), hasil bumi dalam ‘endongan’ janur sebagai perut naga (simbol Dewa Wisnu), sampian penjor sebagai ekor naga (simbol Parama Siwa), serta sanggah penjor sebagai kepala dan mulut naga. Kain putih kuning yang melilit bambu melambangkan Dewa Mahadewa dan Dewa Iswara.
“Demikianlah sekiranya makna penjor yang kita gunakan sebagai pelengkap hari raya Galungan. Utamanya para generasi muda pemahaman ini harus terus dipegang,” pungkas Jro Satria, menekankan bahwa penjor adalah yadnya sederhana yang sarat akan makna. (Wij)
