Simfoni Majapahit Modern: Kemegahan Ruwah Desa Bejijong yang Memukau

Avatar of Jurnalis: Septiana Arlyanti
kepala desa Bejijong
Simfoni Majapahit Modern: Kemegahan Ruwah Desa Bejijong yang Memukau (Aurelia/Kabarterdepan.com)

Kabupaten Mojokerto, Kabarterdepan.com – Ribuan pasang mata menyaksikan betapa kuatnya akar tradisi yang berdenyut di jantung Desa Wisata Bejijong, Minggu (15/02/2026).

Dalam suasana perayaan Ruwah Desa yang megah, desa yang dikenal sebagai pusat peninggalan Kerajaan Majapahit ini berhasil menggabungkan kemegahan sejarah masa lalu dengan semangat modernitas generasi saat ini melalui Kirab Budaya yang diadakan dengan meriah pada bulan Sya’ban ini.

Perayaan tahun ini tampil jauh lebih mewah dan kolosal dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Bukan sekadar rutinitas tahunan, Ruwah Desa Bejijong kali ini menjadi simbol kebangkitan ekonomi sirkular dan solidaritas sosial masyarakatnya yang semakin erat.

Kepala Desa Bejijong, Pradana Tera Mardiatna, menyatakan bahwa tema utama tahun ini adalah “Budaya Majapahit” yang disajikan dengan sentuhan modern yang terintegrasi.

Keputusan untuk menggabungkan elemen tradisional dengan tren terkini merupakan langkah strategis dari pemerintah desa untuk menarik perhatian Generasi Z dan Milenial agar terus mencintai budayanya.

“Ruwah Desa temanya tahun ini desa wisata tetap mengangkat Mojopahitan, yang kami padukan dengan mix modern, karena anak-anak muda sekarang kan juga tidak menerima kemungkinan untuk mengajak kembali, Jadi memperkenalkan budaya kita terhadap generasi milenial, gen Z begitu,” ujar Pradana.

Salah satu tantangan paling signifikan dalam penyelenggaraan ini, menurut Pradana, adalah mengubah pola pikir masyarakat.

Ruwah Desa Bejijong: Estetika Majapahit Tetap Jadi Nyawa

Ia mengakui adanya pergeseran tren, seperti munculnya fenomena “sound horeg” atau modifikasi audio yang digemari oleh kalangan pemuda.

Meskipun sempat menjadi bahan perdebatan, pemerintah desa memutuskan untuk memberikan ruang bagi ekspresi tersebut asalkan tidak merusak estetika kultur budaya Majapahit yang merupakan inti dari desa.

“Organisasi gerakan anak Bejijong, ada sound horeg, tetapi itu bukan sound horeg, melainkan  sound tumpuk yang dimodifikasi oleh mereka masing-masing. Jadi tetap tidak meninggalkan budaya karena memang trendnya saat ini. Tapi yang penting tidak meninggalkan estetika dari kultur budayanya,” tegas Pradana.

Rangkaian acara dimulai dengan dentuman drumband yang membangkitkan semangat, dan diikuti oleh parade dari jajaran perangkat desa.

Puncaknya adalah iring-iringan warga yang membawa berbagai bentuk sedekah bumi, mulai dari hasil pertanian, sayuran, hingga tumpeng raksasa.

Rute kirab ini tidak ditentukan secara sembarangan, seluruh peserta mengakhiri perjalanan mereka di Sumur Windu.

Pemilihan lokasi ini memiliki makna sakral yang mendalam bagi masyarakat setempat.

Menurut “tokoh babat” alas atau pendiri desa bejijong, mbah Rekso Sumur Windu diyakini sebagai jejak sejarah.

Dengan berakhir di sana, masyarakat diajak untuk kembali mengenang asal-usul dan jasa para leluhur.

Secara keseluruhan, terdapat 13 grup peserta yang memeriahkan kirab, terdiri dari 7 RT di wilayah Dusun Bejijong serta dukungan partisipasi dari sekolah-sekolah di sekitarnya

Dusun Bejijong menjadi penutup dari rangkaian panjang Ruwah Desa, setelah sebelumnya Dusun Kedung Wulan berhasil menggelar acara serupa dan pagelaran wayang kulit.

Salah satu fakta menarik di balik kemegahan acara ini adalah besarnya kontribusi swadaya masyarakat.

Meski Pemerintah Desa Bejijong mengucurkan Dana Desa sekitar Rp16 juta per dusun untuk menstimulus acara, jumlah tersebut hanyalah sebagian kecil dari total biaya yang dikeluarkan.

Salah satu pelatih nari sekaligus panitia di lingkup RT 3 RW 2, Nur mulikah membeberkan bahwa antusiasme warga sangat tinggi hingga rela merogoh kocek pribadi.

Untuk lingkup satu RT saja, biaya yang dihabiskan bisa mencapai 5 juta untuk keperluan sewa sound system hingga konsumsi tumpeng, itu pun belum termasuk modal mandiri dari masing-masing peserta untuk kostum dan riasan.

“Persiapannya sudah dilakukan sejak dua bulan lalu. Dari pendataan hingga pembelian kebutuhan dilakukan secara bertahap. Tahun ini jauh lebih mewah karena warga merasa lebih siap secara dana dan semangat. Temanya tetap Majapahitan, ada nuansa kratonannya,” jelas Nur mulikah.

Bagi Nur mulikah, Ruwah Desa bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga untuk menyalurkan sedekah bumi sebagai ungkapan rasa syukur atas rezeki yang telah diterima selama setahun terakhir.

Menariknya, walaupun para peserta muncul dengan kostum dan properti yang sangat total, panitia pusat memutuskan untuk tidak melaksanakan penjurian.

Keputusan ini diambil oleh Kepala Desa Pradana setelah mempertimbangkan dengan seksama tentang kerukunan antar warga.

“Kami tidak mengadakan penjurian kostum karena tujuan utamanya adalah melihat sisi asli gotong royong warga. Jika ada pemenang dan yang kalah, dikhawatirkan akan memicu konflik sosial. Kami ingin ini murni menjadi ajang ekspresi antusiasme masyarakat,” tegas Pradana.

Melalui keberhasilan Ruwah Desa ini, pemerintah desa berharap agar sinergi antara masyarakat, pemerintah desa, dan pemerintah kabupaten tetap terjaga.

Sasaran utamanya adalah memperkuat posisi Bejijong sebagai Desa Wisata Majapahit yang unggul baik di tingkat nasional maupun internasional.

“Harapannya tetap kompak, guyub rukun, masyarakatnya juga tetap harus bersinergi dengan pemerintah baik pemerintah desa dan pemerintah kabupaten, terus bekerja sama, kompak, memajukan desa wisata kabupaten,” tutur Pradana.

Perayaan Ruwah Desa Bejijong tahun ini tidak hanya menyisakan jejak kemeriahan, tetapi juga menyampaikan pesan yang kuat bahwa tradisi akan tetap hidup selama ia dapat beradaptasi.

Selain itu, kemajuan suatu desa tidak diukur dari besarnya anggaran, melainkan dari kuatnya hubungan silaturahmi di antara warganya.

Responsive Images

You cannot copy content of this page