Mahasiswa Dirikan Tenda di Halaman Rektorat UGM Yogyakarta, Ada Apa?

Avatar of Redaksi
IMG 20250515 WA0106
Tenda yang didirikan oleh mahasiwa di halaman Balairung, Karangmalang, Caturtunggal, Depok, Sleman, DIY. (Hadid Husaini/kabarterdepan.com)

Sleman, kabarterdepan.com — Sejumlah mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan aksi Okupasi dengan mendirikan tenda di halaman Balairung menyikapi kondisi kampus terbaru.

Aksi tersebut dimulai sejak Rabu (15/5/2025). Bahkan dalam prosesnya, mereka diduga mengalami tindakan kekerasan yang dilakukan oleh anggota pengamanan kampus.

Salah satu anggota aksi Okupasi, Amir menyampaikan beberapa tuntutan dari para mahasiswa beberapa diantaranya militerisme yang terjadi di kampus, penyelesaian beberapa kasus kekerasan seksual oleh Satgas yang dinilai kurang tegas hingga isu tunjangan kinerja (Tukin) para pekerja kampus yang dipotong dampak efisiensi pemerintah pusat.

Salah satu yang menjadi sorotan bagi mahasiswa adalah pergantian komandan Kantor Keamanan Keselamatan Kerja Kedaruratan dan Lingkungan (K5L) kepada salah satu anggota polisi aktif.

Hal tersebut menurutnya berdampak kepada segala aktivitas dan ruang mahasiswa di dalam kampus yang disebutnya semakin mengkhawatirkan.

“Komandan K5L itu polisi aktif, bisa dilihat kemarin (aksi okupasi) dibandingkan dengan tahun lalu. Kami menyayangkan sekarang (tekanan) lebih keras kepada kami,” katanya saat ditemui pada Kamis 15/5/2025).

Ia menyampaikan bahwa sejumlah mahasiswa sempat mengalami luka akibat tindakan yang dilakukan oleh petugas keamanan kampus hingga mendapatkan perawatan medis.

Aksi yang dilakukan oleh mahasiswa itu disebut Amir mendapat dukungan dari beberapa dosen terutama yang tergabung dalam aliansi Serikat Pekerja Kampus Gadjah Mada (Sejagad).

“Yang mendukung ada dari dosen yang kemarin mengikuti diskusi yang mengatasnamakan Sejagad. Kalau yang menolak itu ada beberapa dosen yang menanggapi aksi ini secara sinis, ada yang secara individu imbauan jangan ikut,” katanya.

Perbedaan sikap dari dosen tersebut menurutnya karena sama-sama memiliki kepentingan yang berbeda.

Pihaknya menyampaikan bahwa mahasiswa masih akan terus bertahan hingga tuntutan mereka untuk bertemu dengan Rektor UGM Ova Emilia bisa dilakukan.

Pihaknya juga telah melakukan konsolidasi agar aksi tersebut tidak ditunggangi kepentingan diluar aspirasi yang ingin disampaikan. (Hadid Husaini)

Responsive Images

You cannot copy content of this page