Lomba Ketahanan Pangan Kota Yogyakarta, Wujud Petani Berdaya di Tengah Lahan Sempit dan Ketergantungan Impor Beras

Avatar of Redaksi
IMG 20250724 WA0108
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta Sukidi. (Hadid Husaini for kabarterdepan.com)

Yogyakarta, kabarterdepan.com- Dengan lahan yang sempit, Kota Yogyakarta terus berinovasi untuk memperkuat ketahanan pangan di wilayahnya berbasis kampung.

Pemerintah Kota Yogyakarta bahkan menjadikan pertanian semakin dekat dengan masyarakat dengan adanya perlombaan ketahanan pangan yang diikuti oleh seluruh kelompok tani.

Total dalam perlombaan tersebut diikuti oleh 293 kelompok tani dengan memperebutkan 4 kategori diantaranya Kampung sayur, olahan sayur, landscape sayur, dan  sayur kategori buah.

“Perlombaan ini untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam ketahanan pangan dan ketahanan dan sosial,” kata Sukidi, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta saat diwawancarai kabarterdepan.com pada Kamis (24/7/2025).

Pada lomba ini, pihaknya juga ingin mengajak masyarakat dalam mengoptimalkan pemanfaatan lahan yang ada di sekeliling mereka.

Sukidi menjelaskan bahwa terdapat 3 pilar yang menjadi yang dikedepankan dalam menciptakan ketahanan pangan diantaranya Ketersediaan, Keterjangkauan, dan Pemanfaatan.

“Di pilar pertama Keterjangkauan belum bisa kita lakukan, produksi domestik melalui pemanfaatan lahan lahan sempit. Kita tidak melakukan produksi tanaman padi tapi tanaman sayur, buah dan hortikultura,” katanya.

Pihaknya menyampaikan selalu mendampingi para kelompok tani melalui para penyuluh di setiap kemantren. Pihaknya juga mendampingi dalam menjualkan produk olahan makanan.

“Sudah berkembang dan itu kita melibatkan ahli dari perguruan tinggi untuk pengolahan melalui Akademi Pariwisata hingga ahli gizi,” ujar Sukidi.

Sukidi menyampaikan berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kora Yogyakarta  bahwa luas Kota Yogyakarta saat ini mencapai 32,8 km² dan dihuni 621 ribu jiwa. Sedangkan kepadatan sebesar 18 jiwa per 1 km².

“Sehingga ruangnya hanya sedikit sekali untuk pengembangan pertanian di Kota Yogyakarta jika dibanding kota lainya,” katanya.

“Harapan dari kegiatan ketahanan pangan harapan masyarakat di Kota Yogyakarta mengembangkan pertanian memanfaatkan lahan yang ada,” ujarnya.

Pasok Hingga 700 Ton Beras 

Sukidi menyampaikan Kota Yogyakarta memiliki ketergantungan pasokan yang tinggi terhadap berbagai komoditas dari daerah lainnya hingga Jawa Tengah.

“Ketergantungan pangan pasti, kita kerja sama dengan kabupaten penyangga lainya seperto Kulonprogo, Sleman, dan beberapa wilayah lainya sepeti Delanggu (Klaten), Sukoharjo, Purworejo, dan Purwokerto,” katanya.

Salah satu komoditas yang paling banyak dipasok adalah beras yang disebutnya mencapai 600 hingga paling tinggi 700 ton per bulan.

“Beras 600 ton per bulan kalau di hari hari besar itu meningkat 700 aja itu bukan untuk konsumsi semua, untuk rumah makan kebutuhanya sangat tinggi,” katanya. (Hadid Husaini)

Responsive Images

You cannot copy content of this page