Lokasi Ditentukan Pemkot Yogyakarta, Pengamen Tunanetra di Malioboro Was-was Pendapatan Menurun

Avatar of Redaksi
Pengamen Tunanetra
Achyar dan Arsyad, Pengamen tunanetra di malioboro saat menghibur pengunjung pada musim libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), Minggu (28/12/2025). (Hadid Husaini/kabarterdepan.com)

Yogyakarta, kabarterdepan.com – Di tengah padatnya wisatawan yang berkunjung di Malioboro saat libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), para pengamen tunanetra nampak mulai kembali beroperasi secara terkoordinir.

Kendati begitu, meskipun sudah ditempatkan di sejumlah titik panggung oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta melalui UPT Cagar Budaya Malioboro, mereka masih mengkhawatirkan penurunan pendapatan dibandingkan dengan saat berjalan kaki.

Kekhawatiran Pendapatan Pengamen Tunanetra Menurun

Hal tersebut disampaikan oleh salah seorang pengamen tunanetra bernama Arsyad. Menurutnya, penataan ini menjadi anomali tersendiri di tengah kebutuhan para pengamen untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

“Baru beberapa hari ini diizinkan mangkal di tiap tiap titik. Kalau pendapatan belum tahu karena tahun pertama (mangkal). Kalau dulu kita jalan, sekarang terkoordinir,” katanya saat diwawancarai kabarterdepan.com, Minggu (28/12/2025).

“Jadi belum menghitung jumlah pendapatan (saat Nataru) karena baru beberapa hari ini. Sebelumnya jalan kaki ya lumayan. kalau nyekolahin anak sama untuk bayar kontrakan, meskipun kurang-kurang bisa dikatakan cukup,” katanya.

Ia menyampaikan bahwa pendapatan mengamen yang diperoleh dengan berjalan kaki di tepi jalan Malioboro lebih menjanjikan daripada mangkal di satu titik. Kendati begitu, ia menaruh harapan bisa mendapatkan pendapatan lebih dengan tingginya kunjungan wisatawan.

“Sementara liburan ini mungkin (pendapatan) jelas. Tapi kalau di luar liburan kemungkinan sepi juga. Sementara kami di sini, nanti setelah liburan kami menunggu komando sahabat kami, tapi sepertinya tetap di sini,” kata Amir.

WhatsApp Image 2025 12 28 at 3.20.14 PM

Arsyad menyampaikan dengan jalan kaki ia menyebut sudah bisa pulang ke rumah dalam waktu 3 jam mengamen. Kendati begitu, dengan penataan saat ini dirinya terpaksa menunggu jadwal ngamen di titik yang sudah ditentukan.

Untuk bisa tampil, para pengamen yang sebelumnya sudah terseleksi akan tampil secara bergantian untuk menghibur wisatawan yang datang ke Malioboro yang terbagi dalam 2 shift.

“Ada 2 jadwal, sore mulai jam 14.00 WIB – 19.20 WIB dan 19.20 WIB – 22.30 WIB, tapi menunggu karena 25 orang kan sementara titiknya hanya ada beberapa lokasi,” katanya.

Arsyad menyampaikan dirinya tidak hanya tergantung pada satu pendapatan. Dirinya juga sering menerima permintaan dari pelanggan untuk pijat.

Pihaknya menyampaikan siap berkolaborasi dengan Pemkot Yogyakarta untuk bisa memberikan hiburan di berbagai acara yang diselenggarakan untuk bisa memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Salah seorang pengamen tunanetra lainya bernama Achyar menyampaikan bahwa penataan yang dilakukan oleh UPT Cagar Budaya Malioboro disebutnya memiliki sisi positif maupun negatif.

“Ada plus minusnya kalau kita jalan emang secara pendapatannya bagus. tapi capek, pegel. Kalau ini (mangkal) di sini aja gak bikin cepet capek.” katanya. (Hadid Husaini)

Responsive Images

You cannot copy content of this page