Lapindo: Masjid Baitul Hamdi Jadi Saksi Kampung yang Tenggelam

Avatar of Redaksi
Lapindo
Masjid Baitul Hamdi (Sumber:Azies/Kabarterdepan.com)

Sidoarjo, KabarTerdepan.com – Di antara bentangan tanggul penahan lumpur panas Lapindo, berdiri sebuah bangunan tua yang nyaris terlupakan.

Masjid Baitul Hamdi di Desa Besuki, Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo, kini sunyi tanpa azan dan lantunan tadarus. Padahal sebelum bencana melanda, masjid itu menjadi jantung kehidupan spiritual warga, terutama saat Ramadan.

Lokasinya yang berada tak jauh dari tanggul lumpur Lapindo membuat bangunan tersebut menjadi salah satu penanda nyata desa yang telah hilang. Cat dindingnya memudar, sebagian tembok ditumbuhi semak liar. Di bagian dalam, debu tebal dan kotoran kelelawar menutupi lantai yang dulu dipenuhi sajadah dan saf jamaah.

Semburan PT Lapindo Brantas Meluap 2008

Sebelum semburan lumpur yang dipicu pengeboran oleh PT Lapindo Brantas meluas dan menyebabkan tanggul jebol pada 2008, Masjid Baitul Hamdi selalu ramai. Setiap Ramadan, warga memadati masjid untuk salat tarawih, tadarus Al-Qur’an, hingga berbagi takjil menjelang berbuka.

Rahmat (49), mantan warga Desa Besuki, mengenang suasana masjid yang tak pernah sepi dari aktivitas keagamaan.

“Kalau Ramadan itu, suasananya berbeda. Habis magrib langsung ramai, anak-anak ikut tadarus, orang tua ikut pengajian. Masjid ini seperti pusat kehidupan kampung,” tuturnya, Sabtu (28/2/2026).

Menurut Rahmat, bukan hanya ibadah rutin yang digelar. Di samping masjid, dahulu berdiri pondok pesantren kecil yang aktif mengadakan kajian dan kegiatan keagamaan harian. Interaksi sosial warga pun terjalin erat melalui aktivitas di masjid tersebut.

Namun keadaan berubah drastis ketika lumpur mulai menggenangi permukiman. Warga terpaksa mengungsi demi keselamatan.

“Kami pergi dengan tergesa-gesa. Fokusnya menyelamatkan keluarga. Masjid akhirnya ditinggalkan begitu saja,” kenangnya.

Cerita serupa disampaikan Karman (60), mantan warga Besuki lainnya. Ia menyebut kawasan sekitar masjid dulunya merupakan lingkungan padat penduduk dengan fasilitas keagamaan yang lengkap.

“Dulu di depan masjid ada makam warga, di sekelilingnya rumah-rumah dan pesantren. Sekarang semuanya sudah tertutup lumpur. Tinggal bangunan masjid ini yang masih berdiri,” ujarnya.

Bencana lumpur yang terjadi sejak 2006 berdampak luas di Kabupaten Sidoarjo.

“Wilayah Kecamatan Porong, Tanggulangin, dan Jabon menjadi kawasan terdampak paling parah. Sedikitnya 12 desa tenggelam, ribuan rumah dan fasilitas umum hilang, serta ribuan warga kehilangan tempat tinggal dan sumber penghidupan,”tambahnya.

Meski tak lagi difungsikan, struktur utama Masjid Baitul Hamdi masih tampak kokoh. Kubah dan dindingnya menjadi saksi bisu atas kehidupan yang pernah tumbuh di Desa Besuki. Saat Ramadan tiba, kenangan tentang lantunan ayat suci dan kebersamaan warga kembali terbayang, meski hanya tersisa dalam ingatan.

Kini, di tengah sunyinya kawasan yang berubah menjadi hamparan lumpur, “Masjid Baitul Hamdi berdiri sebagai simbol kampung yang hilang pengingat bahwa di tempat itu pernah ada kehidupan, doa, dan kebersamaan yang begitu hangat,”pungkasnya.

Masjid yang tersisa itu bukan sekadar bangunan fisik, melainkan penanda ingatan kolektif warga Besuki yang tercerabut dari akarnya. Di sekelilingnya, lanskap telah berubah menjadi bentangan tanah retak dan genangan lumpur yang mengeras. Jalan kampung yang dulu dilalui anak-anak berangkat mengaji kini tak lagi terlihat jejaknya. Aroma lumpur yang khas masih tercium saat angin berembus dari arah tanggul.

Beberapa kali, mantan warga datang sekadar menengok dari kejauhan. Mereka berdiri di atas tanggul, memandangi kubah masjid yang tampak sendirian di tengah kawasan mati. Tak sedikit yang mengabadikan momen itu dengan kamera ponsel, sebagai pengingat bahwa di titik tersebut pernah berdiri kampung halaman mereka. Namun akses menuju masjid kini terbatas dan tidak semua orang berani mendekat karena kondisi tanah yang labil.

Bagi sebagian warga, Masjid Baitul Hamdi adalah ruang terakhir yang menyimpan identitas Besuki. Meski rumah, sekolah, dan pasar telah hilang, bangunan masjid masih memberi jejak sejarah tentang kehidupan sosial dan religius masyarakat sebelum bencana. Setiap memasuki bulan suci, kenangan tentang suara beduk, lantunan ayat suci, hingga canda anak-anak selepas tarawih kembali menyeruak.

Harapan untuk memugar atau menjadikannya situs pengingat tragedi sempat muncul dalam sejumlah perbincangan warga terdampak. Mereka berharap ada perhatian serius agar masjid tersebut tidak benar-benar lenyap dimakan waktu. Setidaknya, bangunan itu bisa menjadi pengingat generasi mendatang tentang peristiwa besar yang mengubah wajah Sidoarjo dan merenggut ruang hidup ribuan orang.

Di tengah segala kehilangan, Masjid Baitul Hamdi tetap berdiri—sunyi, namun sarat makna.

Tinggalkan komentar

You cannot copy content of this page