Kus Andi Berbagi Strategi Reputasi: Goodwill Buffer Jadi Tameng Terkuat di Era Digital

Avatar of Redaksi
Strategi Reputasi
Kuliah Tamu “Membangun Citra, Mengelola Krisis: Strategi Reputasi di Era Dinamis” di VLT 3 Timur Universitas Katolik Darma Cendika Surabaya. (Rio/Kabarterdepan.com)

Surabaya, KabarTerdepan.com – Dalam Kuliah Tamu “Membangun Citra, Mengelola Krisis: Strategi Reputasi di Era Dinamis” di VLT 3 Timur Universitas Katolik Darma Cendika Surabaya, Rabu (10/12/2025), Kus Andi selaku Head of Public Relations Midtown Hotels Indonesia menjelaskan pentingnya reputasi sebagai diffrensiasi dan nilai sebuah bisnis.

3 Pilar Strategi Reputasi

Kus Andi, menegaskan bahwa reputasi yang kokoh hanya bisa dibangun di atas tiga pilar utama: Consistency, Competency, dan Character (3C).

“Tanpa konsistensi pesan, kompetensi nyata, serta karakter yang mencerminkan tanggung jawab sosial, reputasi akan runtuh dalam hitungan detik,” ujar Kus di seminar yang dihadiri 80-an mahasiswa.

Menurut Kus Andi, reputasi kini menjadi aset paling strategis karena mampu menciptakan diferensiasi, membangun kepercayaan, meningkatkan loyalitas, sekaligus menjadi goodwill buffer saat badai krisis datang.

“Dalam trust atau kepercayaan, tidak hanya ditekankan dalam costumer saja tetapi juga investor dan karyawan, yang menunjukkan bahwa kami perusahaan atau hotel dapat dipercaya dan bisa bertanggungjawab dalam peristiwa yang terjadi” ujar Kus.

WhatsApp Image 2025 12 10 at 2.26.54 PM

Dalam sesi pengelolaan krisis, Kus Andi membagi tiga fase krusial: pra-krisis (pelatihan rutin & simulasi), saat krisis (satu juru bicara, respons cepat, proaktif), serta pasca-krisis (evaluasi dan pemulihan citra).

“Dalam saat krisis penting untuk buat 1 juru bicara saja, agar pernyataan tidak ada yang tertimpa atau misscom, juga kita harus cepat dalam memberikan statement ke media yang sudah siap meliput, juga apa yang disampaikan harus di perhatikan agar tidak salah menerima informasi, juga penting untuk memberikan pelatihan dan simulasi jika krisis terjadi” ujar Kus.

Ia lalu memberikan studi kasus viral kehilangan tumbler milik penumpang KAI beberapa waktu lalu.

“Mengapa Tuku (akun resmi KAI) tidak mempromosikan pencarian tumbler itu secara besar-besaran? Karena semakin terlihat ingin memanfaatkan krisis atau penderitaan orang lain, semakin publik akan menganggap pelaku itu sendiri yang menjadi sumber masalahnya,” jelasnya.

Konsep Strategic Silence yang diterapkan KAI justru berhasil menyelamatkan citra tanpa terkesan cari simpati murahan.
Kus Andi juga mengingatkan: “Diam yang tepat adalah senjata sekaligus perisai, asalkan tetap disertai transparansi proses.”

Sesi yang berlangsung hingga pukul 13.00 ini ditutup dengan pesan di era digital, satu kebaikan nyata yang konsisten jauh lebih ampuh daripada seribu kata promosi. (Rio)

Responsive Images

You cannot copy content of this page