Kunjungi Pasar Beringharjo, Anggota DPR RI Esti Wijayati Tunjukkan Buruh Gendong Bisa Berdaya 

Avatar of Redaksi
IMG 20250308 WA0060
Maria Yohana Esti Wijayati saat menyambangi Pasar Beringharjo, Ngupasan, Gondomanan, Kota Yogyakarta, DIY dalam memperingati Hari Perempuan Internasional 2025 pada Sabtu (8/3/2025). (Hadid Husaini/kabarterdepan.com)

Yogyakarta, Kabarterdepan.com- Dalam memperingati Hari Perempuan Internasional 2025, Anggota Komisi X DRP RI Maria Yohana Esti Wijayati mengunjungi Pasar Beringharjo, Ngupasan, Gondomanan, Kota Yogyakarta, DIY untuk memberikan semangat kepada para buruh gendong.

Pada kesempatan tersebut dihadiri juga oleh Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan yang turut menyapa para buruh gendong di pasar terbesar di DIY tersebut.

Selain memberikan dukungan secara moril, Esti juga mendorong agar perempuan seperti buruh gendong bisa berdaya dan mandiri

Esti menyampaikan peran pemerintah sangat penting untuk bisa memahamkan hak-hak yang dimiliki oleh kelompok perempuan.

“Perempuan bukan hanya objek pembangunan kebijakan pemerintah daerah dan pemerintah pusat bisa menunjukkan keberpihakannya di semua sektor, apakah itu dalam hal kesetaraan gender apakah pemberdayaan perempuan,” katanya saat diwawancarai wartawan pada Sabtu (8/3/2025).

Dengan menjadikan perempuan mandiri, wanita asal Sleman ini berharap angka kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) maupun kekerasan seksual bisa ditekan.

“Mereka juga akan paham ketika pemerintah memberikan ruang kepada perempuan, hak politik kepada perempuan, sehingga mereka senang untuk bisa mengikuti pemilihan baik di tingkatan desa sampai pemilihan presiden,” katanya.

Sebagai kader PDI Perjuangan dirinya merasa terhormat mendapatkan amanat dari Ketua Umum, Megawati Soekarno Putri untuk bisa menciptakan gerakan kesadaran terhadap hak-hak perempuan di masyarakat.

Esti menyebut jika buruh gendong merupakan skup kecil dari berbagai kelompok perempuan yang ada. “Ini merupakan ruang lingkup kecil sebagai perhatian kami melihat di basis bawah,” katanya.

“Buruh gendong ini sebagai simbol perempuan kuat dan berdaya yang perlu diperhatikan dari banyak sisi, bagaimana keluarga, anak-anaknya, dan kesehatanya,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut dirinya menemui berbagai permasalahan yang dihadapi oleh para buruh gendong. Bahkan, salah satu buruh gendong yang ia temui yang ternyata memiliki penyakit kolesterol dan tensi tinggi.

Oleh karena itu dirinya meminta agar pemerintah dari pusat hingga daerah bisa terus hadir.

Ke depan, Esti menyampaikan akan lebih menemui kelompok perempuan lainya. “Soal gerakan perempuan, kawan-kawan kami ketika DIY akan mengunjungi kelompok (perempuan). Itu menjadi jadwal yang otomatis ketika kita berkunjung ke daerah,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan mendukung agara pemberdayaan perempuan terus dilakukan di Kota Yogyakarta terutama kepada buruh gendong yang kebanyakan sudah tidak muda lagi.

Dirinya melihat peran para buruh gendong tidak bisa disepelekan. “Mereka ini perempuan yang kuat. Mereka bukan pemilik barang belanjaan tapi mengangkat apa yang dibelanjakan oleh masyarakat,” katanya.

Wawan menyebut jika para buruh gendong ini menunjukkan karakter yang ngeyel. Meski tidak memiliki daya ekonomi yang kuat, namun tetap bisa memberikan pelayanan kepada orang lain. (Hadid Husaini)

Responsive Images

Tinggalkan komentar

You cannot copy content of this page