
Sidoarjo, KabarTerdepan.com – Menjelang azan magrib berkumandang, suasana di sebuah rumah produksi kue lumpur di Sidoarjo, mendadak ramai. Antrean pembeli mengular, sebagian rela menunggu demi mendapatkan kue lumpur hangat yang baru matang dari cetakan. Ramadan tahun ini kembali membawa berkah bagi perajin kue tradisional yang satu ini.
Memasuki bulan suci Ramadan ini, peningkatan permintaan langsung terasa. Warga memilih kue lumpur sebagai menu pembuka sebelum menyantap hidangan utama. Teksturnya yang lembut dengan bagian tengah yang lumer dinilai pas untuk membatalkan puasa setelah seharian menahan lapar dan dahaga.
Di dapur produksi kawasan Jalan Hang Tuah, aktivitas berlangsung tanpa henti sejak siang hari. Adonan berbahan santan, telur, dan tepung dituangkan ke cetakan bulat, lalu dipanggang menggunakan kombinasi kompor gas dan bara arang di bagian atasnya. Cara ini dipertahankan demi menjaga cita rasa khas yang sudah dikenal pelanggan.
Pemilik usaha, Lilik Resiyowati, menuturkan bahwa Ramadan selalu menjadi periode tersibuk dalam setahun. Produksi yang biasanya berkisar 2.000 biji per hari kini melonjak signifikan, terutama saat akhir pekan.
“Kalau hari biasa sekitar dua ribuan. Sekarang bisa tembus lebih dari tiga ribu biji per hari, apalagi Sabtu dan Minggu,” ujarnya, Selasa (3/3/2026).
Menurut Lilik, pembeli tak hanya datang langsung ke lokasi, tetapi juga memesan dalam jumlah besar untuk acara buka bersama. Beberapa pelanggan bahkan melakukan pemesanan jauh-jauh hari agar tidak kehabisan.
Tingginya permintaan berdampak pada kebutuhan bahan baku. Dalam sehari, puluhan butir kelapa muda dikupas untuk campuran adonan. Tepung terigu dan telur pun disiapkan dalam jumlah lebih banyak dibanding hari biasa agar produksi tetap lancar.
“Kalau lagi ramai, kelapa muda bisa habis sampai seratus biji sehari. Tepungnya juga belasan kilo,” jelasnya.

Ciri Khas Kue Lumpur Sidoarjo
Ciri khas kue lumpur ini terletak pada aromanya yang sedikit smoky akibat penggunaan arang kayu. Panas dari atas dan bawah membuat bagian luar matang sempurna, sementara bagian tengah tetap lembut dan sedikit basah.
Selain varian original, tersedia pula varian dengan tambahan kelapa muda yang lebih dominan. Harga per kotak isi sepuluh biji masih terjangkau, sehingga banyak keluarga memilihnya sebagai sajian berbuka bersama.
Salah satu pelanggan, Ninis asal Bluru Sidoarjo, mengaku sengaja datang setiap Ramadan. Ia menilai rasa kue lumpur di tempat ini konsisten dari tahun ke tahun.
“Rasanya gurih lumer saat digigit dan rasa tidak berubah dari awal saya beli dulu. Cocok sekali untuk berbuka puasa,” katanya.
Berbeda dengan pelanggan asal Surabaya, choyum lebih suka dengan smokynya.
“kalau saya lebih suka baunya yang smoky harum dan sedap bercampur gurih saat digigit lumer, tercampur jadi satu“ ujarnya.
Popularitasnya tidak hanya dikenal warga sekitar. Sejumlah pembeli dari luar kota seperti Malang hingga Jakarta juga kerap menyempatkan mampir saat berada di Sidoarjo. Mereka biasanya membeli dalam jumlah lebih banyak untuk dijadikan oleh-oleh.
Meski produksi meningkat, Lilik menegaskan kualitas tetap menjadi prioritas utama. Kue yang sudah matang tidak disimpan terlalu lama agar rasa dan teksturnya tetap terjaga saat sampai ke tangan pembeli.
Di tengah maraknya jajanan modern yang bermunculan setiap Ramadan, kue lumpur tradisional ini tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat.
Kehangatan rasa dan proses pembuatannya yang masih mempertahankan cara lama menjadi alasan mengapa kudapan khas Sidoarjo ini terus diburu setiap waktu berbuka tiba. (Azies)**
