
Mojokerto, Kabarterdepan.com – Di tengah maraknya tren jajanan kekinian yang terus bermunculan, kudapan kreco tetap menjadi salah satu makanan yang banyak diminati oleh masyarakat, meski termasuk jajanan jadul. Lia, seorang wanita berusia 45 tahun yang tinggal di Lingkungan Kedungsari, Kelurahan Gunung Gedangan, Magersari, Kota Mojokerto masih setia melestarikan kudapan khas ini “kreco” yang sudah semakin langka.
Kudapan Kreco
Keunikan kreco sebagai hidangan terletak pada asal-usulnya yang berasal dari hewan yang sering dianggap sebagai hama di sawah dan tambak.
“Sehari kurang lebih terjual 5 sampai 10kg kreco, tidak dapat dipastikan ramainya pada hari apa karena pembeli juga banyak yang datang dari luar daerah,” ujar Lia.
Lia sudah menjalani usaha berjualan kreco sejak tahun 2017, menggantikan profesinya sebelumnya yang menjual tisu. Setiap malam, ia membuka lapak di kawasan Jalan Banteng Pancasila, Kota Mojokerto, dimulai sekitar pukul 18.00 hingga 23.00 WIB.

Lia menawarkan dua jenis olahan kreco, yakni kreco rebus yang memiliki rasa gurih dan kreco pedas yang lebih menggugah selera serta olahan sate kreconya. Selain kreco, Lia juga menyediakan berbagai menu lainnya, seperti kol rebus, kerang rebus, sate kol, krengsengan kol, dan rica-rica kol mulai harga 10 Ribu.
Menurut Lia, kreco masih menjadi primadona dan banyak dicari pelanggan, bahkan oleh mereka yang berasal dari luar Mojokerto. Untuk memenuhi permintaan tersebut, Lia mendapatkan pasokan kreco dan kol hidup dalam kondisi segar dan hidup dari daerah Lamongan.
Namun, Lia mengungkapkan bahwa ketika musim kemarau menjadi salah satu tantangan dalam membuat pasokan kreco menjadi lebih sulit didapatkan, karena hewan ini lebih sulit ditemukan selama musim panas. Meskipun demikian, ia tetap berusaha untuk mempertahankan bisnisnya dengan menyediakan produk terbaik bagi para pelanggannya.
Lia menjelaskan bahwa banyak pelanggannya yang memilih menikmati kreco setelah berolahraga. Selain karena rasanya yang nikmat, kreco mengandung protein yang cukup tinggi, sehingga baik untuk menggantikan sel-sel tubuh yang rusak setelah aktivitas fisik.
Kreco, menurut Lia, memiliki manfaat untuk tubuh, terutama setelah olahraga. Tak hanya itu, bagi sebagian orang, menyantap kreco juga mengingatkan mereka pada masa kecil, di mana makanan ini sering menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.
Seiring berjalannya waktu, Lia tidak hanya melihat kreco sebagai sebuah bisnis, tetapi juga sebagai sebuah cara untuk melestarikan warisan kuliner yang semakin jarang ditemukan di Mojokerto. Ia berharap, dengan terus berjualan dan mengenalkan kreco kepada masyarakat, makanan tradisional ini akan tetap bertahan dan dihargai oleh generasi yang lebih muda.
Keberlanjutan usaha Lia ini menjadi bukti bahwa meskipun tren makanan kekinian terus bermunculan, makanan tradisional yang memiliki nilai sejarah dan rasa khas tetap memiliki tempat di hati masyarakat. (Tantri*)
