IMM Toyota - Mojokerto
Kitoshindo
Birth Beyond

Kronologi Pengaturan Skor Liga 2 yang diungkap Polri

Avatar of Jurnalis : Erix - Editor : Yunan
Ketua Satgas Anti Mafia Bola Polri, Irjen Asep Edi Suheri saat memimpin konferensi pers, Rabu (27/9/2023) (humas Polri)
Ketua Satgas Anti Mafia Bola Polri, Irjen Asep Edi Suheri saat memimpin konferensi pers, Rabu (27/9/2023) (Humas Polri)

Jakarta, KabarTerdepan.com – Satgas Anti Mafia Bola Polri menetapkan 6 tersangka dugaan pengaturan skor atau Match Fixing Liga 2. Kasatgas Anti-Mafia Bola Polri Irjen Asep Edi Suheri mengatakan, penyidik telah memperoleh sejumlah bukti yang cukup.

Pengungkapan kasus tersebut merupakan pembuktian Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam komitmennya menindaklanjuti instruksi dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk memberangus seluruh mafia sepak bola di Indonesia.

Responsive Images

“Dari hasil penyidikan, penyidik telah memperoleh bukti yang cukup. Maka ditetapkan enam orang sebagai tersangka,” kata Irjen Asep, di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Rabu (27/9/2023).

Keenam tersangka itu adalah, K selaku LO wasit, A selaku kurir pengantar uang, R sebagai wasit tengah, T selaku asisten wasit 1, R asisten wasit 2 dan A yang merupakan wasit cadangan.

Asep menyebutkan, proses penegakan hukum ini sendiri hasil dari sinergitas antara Polri dan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI).

“Dalam laporan tersebut, terjadi match fixing pada pertandingan dari tahun 2018 sampai dengan 2022. Tidak menutup kemungkinan prakfik seperti itu masih terjadi di tahun 2023. Dikarenakan target tersebut masih diduga masih berkecimpung dalam kegiatan persepakbolaan Indonesia sampai saat ini,” ujar Asep.

Asep membeberkan, kronologi pengungkapan kasus ini bermula terdapat wasit terindikasi terlibat dalam praktik match fixing pada pertandingan Liga 2 antara klub X dan klub Y pada November 2018. Kemudian Satgas Anti-Mafia Bola bergerak cepat melalui laporan polisi bernomor LP/A/15/IX/2023/SPKabarTerdepan.com.DITTIPIDSIBER/BARESKRIM POLRI per tanggal 5 September 2023.

Selanjutnya, Satgas Anti-Mafia Bola Polri pun telah melakukan pemeriksaan terhadap 15 orang saksi yang berasal dari pihak klub, wasit yang terlibat dalam pertandingan, pengawas pertandingan, pihak-pegawai hotel, panitia penyelenggara pertandingan dan Komdis PSSI. Tak hanya itu, penyidik juga telah meminta keterangan dari enam ahli pidana.

Dari rangkaian tersebut, Asep menyatakan, Polri menemukan fakta modus operandi yang dilakukan pihak klub untuk melobi perangkat wasit guna memenangkan pertandingan salah satu klub dengan iming-iming uang. Modus lainnya adalah wasit tidak mengangkat bendera saat offside.

“Pihak klub memberikan uang sebesar Rp100 juta ke para wasit di hotel tempat menginap dengan maksud agar klub X menang melawan klub Y. Menurut keterangan klub mereka sudah mengeluarkan uang kurang lebih sekitar Rp1 miliar untuk melobi wasit di sejumlah pertandingan. Klub yang diduga terlibat masih aktif dalam pertandingan liga 1. Akan tetapi hal tersebut masih akan kami telusuri dan dalami,” papar Asep.

Atas perbuatannya, untuk tersangka K dan A dijerat dengan Pasal 2 UU Nomor 11 Tahun 1980 Tentang Tindak Pidana Suap Jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1. Dengan ancaman pidana selama-lamanya lima tahun dan denda sebanyak-banyaknya Rp15 juta.

Sementara tersangka, R, T, R, dan A disangka melanggar Pasal 3 UU Nomor 11 Tahun 1980 Tentang Tindak Pidana Suap Jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1. Dengan ancaman pidana selama-lamanya tiga tahun dan denda sebanyak-banyaknya Rp15 juta.

Asep mengatakan pihaknya juga masih mencari tersangka lain di kasus ini. Penyidik nantinya akan memeriksa saksi lainnya.

“Selanjutnya, kami akan melakukan pendalaman pemeriksaan terhadap sejumlah saksi lainnya sehingga tidak menutup kemungkinan ada keterlibatan pihak lain,” ujarnya. (*)


Eksplorasi konten lain dari Kabar Terdepan

Mulai berlangganan untuk menerima artikel terbaru di email Anda.

Tinggalkan komentar