Kronologi dan Temuan Dinkesda Blora soal Keracunan Massal Menu MBG

Avatar of Redaksi
Sekretaris Dinkesda Blora, Nur Betsia Bertawati. (Rengga/kabarterdepan.com)
Sekretaris Dinkesda Blora, Nur Betsia Bertawati. (Rengga/kabarterdepan.com)

Blora, Kabarterdepan.com – Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Blora kembali membeberkan rincian lengkap terkait kasus dugaan keracunan makanan yang menimpa ratusan siswa dari tiga sekolah di Kabupaten Blora, setelah mereka menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Temuan terbaru ini sekaligus melengkapi klarifikasi sebelumnya, termasuk hasil laboratorium yang menjadi penentu penyebab insiden.

Dari ratusan siswa yang mengonsumsi menu MBG pada hari kejadian, tercatat ada lima siswa yang harus mendapatkan penanganan lebih intensif di rumah sakit.

Empat di antaranya menjalani rawat inap di Rumkitban Blora, sementara satu siswa lainnya dirawat di RSUD Blora.

“Sebanyak 810 siswa yang makan, 444 siswa mengalami gejala sakit perut, diare, mual, muntah, demam, dan pusing. Jumlah siswa yang dirawat inap di rumah sakit sebanyak 5 orang. Empat dirawat di Rumkitban Blora, kemudian satu siswa di RSUD Blora,” ujar Sekretaris Dinkesda Blora, Nur Betsia Bertawati.

Selain pasien rawat inap, sebanyak 117 siswa harus menjalani rawat jalan, sedangkan 322 siswa lainnya hanya mengalami gejala ringan yang tidak membutuhkan layanan kesehatan lanjutan.

Data tersebut menunjukkan besarnya cakupan siswa yang terdampak, sekaligus menegaskan urgensi evaluasi total terhadap penyelenggaraan program MBG.

Nur Betsia menjelaskan bahwa sampel makanan yang dihidangkan pada hari kejadian telah dikirimkan ke BLK Semarang untuk dilakukan pemeriksaan menyeluruh. Menu yang disiapkan untuk program tersebut terdiri dari ayam woku, tumis pakcoy wortel saus tiram, serta buah melon.

Seluruh hidangan dianalisis untuk memastikan sumber kontaminasi, termasuk pemeriksaan terhadap sarana penunjang yang digunakan penyedia makanan.

Hasil uji laboratorium juga menemukan adanya bakteri yang bersumber dari tandon air di SPPG, lokasi produksi makanan untuk program MBG tersebut.

Penyebab Keracunan Makanan

Temuan ini membuka dugaan kuat bahwa proses hulu hingga hilir pengolahan makanan memiliki celah kebersihan yang memungkinkan bakteri berkembang.

IMG 20251208 WA0078
Menu MBG yang ditinjau oleh Kepala Sekolah SMP N 1 Blora. (Foto: Rengga/kabarterdepan.com)

“Kemungkinan keracunan makanan ini disebabkan oleh pengolahan yang tidak sempurna yang masih memungkinkan bakteri untuk tetap hidup dan berkembang di dalam makanan,” tambahnya.

Dinkesda Blora menilai temuan ini menjadi peringatan penting bagi seluruh pihak yang terlibat dalam penyediaan menu MBG.

Selain memastikan keamanan makanan, proses persiapan, kebersihan alat, serta kualitas bahan baku harus benar-benar dijaga untuk menghindari kejadian serupa di masa mendatang.

Dengan adanya klarifikasi komprehensif ini, Dinkesda Blora berharap masyarakat mendapatkan informasi utuh dan akurat mengenai penyebab insiden, sekaligus menjadi bahan evaluasi struktural agar pelaksanaan program makan bergizi bagi siswa dapat berjalan lebih aman dan higienis. (Rga)

Responsive Images

You cannot copy content of this page